Nama Latifa al-Droubi mungkin belum terlalu akrab di telinga banyak orang. Tapi siapa sangka, wanita kelahiran 1984 dari kota kecil Al-Qaryatayn, Homs ini, punya jejak keluarga yang sangat mendalam dalam sejarah Suriah. Ia adalah cucu dari Ala al-Din al-Droubi, sosok yang tak hanya pernah menjadi Perdana Menteri Suriah di tahun 1920, tetapi juga dokter pribadi Sultan Abdul Hamid II dari Kesultanan Utsmaniyah.
Keluarga al-Droubi memang dikenal sebagai keluarga yang berpengaruh. Selain sang kakek, ada pula Sheikh Abdul Ghaffar al-Droubi, seorang qari Al-Qur'an ternama asal Suriah yang meninggal di Jeddah pada 2009. Latifa tumbuh dengan warisan sejarah yang cukup berat di pundaknya.
Kehidupan pribadinya mulai banyak dibicarakan setelah pernikahannya dengan Ahmed al-Sharaa. Mereka bertemu saat sama-sama kuliah di Universitas Damaskus. Menikah di tahun 2012, pasangan ini dikaruniai tiga orang anak. Menariknya, perjalanan hidup mereka tidak selalu terbuka untuk publik. Di tengah gejolak konflik yang panjang, Latifa disebut-sebut menjalani hidup yang cukup tertutup dan berpindah-pindah, bahkan sempat tinggal di area pegunungan. Barulah setelah suaminya menjadi Presiden, sosoknya perlahan muncul ke permukaan.
Artikel Terkait
Saksi Kunci UGM Bantah Wajah di Ijazah Jokowi: Tidak Sama dengan yang Salaman Saya
Jakarta Terapkan Belajar dan Bekerja dari Rumah, Antisipasi Cuaca Ekstrem
Drama Keluarga Denada: Gugatan Rp7 Miliar dan Kisah Anak yang Dibuang
WFH Jadi Andalan Jakarta Hadapi Cuaca Ekstrem