Dari Warisan Sejarah ke Istana: Kisah Latifa al-Droubi, Ibu Negara Suriah

- Jumat, 23 Januari 2026 | 07:40 WIB
Dari Warisan Sejarah ke Istana: Kisah Latifa al-Droubi, Ibu Negara Suriah

Nama Latifa al-Droubi mungkin belum terlalu akrab di telinga banyak orang. Tapi siapa sangka, wanita kelahiran 1984 dari kota kecil Al-Qaryatayn, Homs ini, punya jejak keluarga yang sangat mendalam dalam sejarah Suriah. Ia adalah cucu dari Ala al-Din al-Droubi, sosok yang tak hanya pernah menjadi Perdana Menteri Suriah di tahun 1920, tetapi juga dokter pribadi Sultan Abdul Hamid II dari Kesultanan Utsmaniyah.

Keluarga al-Droubi memang dikenal sebagai keluarga yang berpengaruh. Selain sang kakek, ada pula Sheikh Abdul Ghaffar al-Droubi, seorang qari Al-Qur'an ternama asal Suriah yang meninggal di Jeddah pada 2009. Latifa tumbuh dengan warisan sejarah yang cukup berat di pundaknya.

Kehidupan pribadinya mulai banyak dibicarakan setelah pernikahannya dengan Ahmed al-Sharaa. Mereka bertemu saat sama-sama kuliah di Universitas Damaskus. Menikah di tahun 2012, pasangan ini dikaruniai tiga orang anak. Menariknya, perjalanan hidup mereka tidak selalu terbuka untuk publik. Di tengah gejolak konflik yang panjang, Latifa disebut-sebut menjalani hidup yang cukup tertutup dan berpindah-pindah, bahkan sempat tinggal di area pegunungan. Barulah setelah suaminya menjadi Presiden, sosoknya perlahan muncul ke permukaan.

Dari sisi pendidikan, Latifa memegang gelar Master dalam bidang Bahasa dan Sastra Arab. Sebuah momen yang cukup mencuri perhatian terjadi pada September 2025, ketika ia akhirnya menghadiri upacara wisudanya di Universitas Idlib. Yang membuat momen itu istimewa adalah kehadiran sang suami, Presiden Suriah, yang mendampinginya.

Sebagai Ibu Negara, peran publiknya mulai terlihat jelas. Penampilan internasional pertamanya terjadi pada Februari 2025. Saat itu, ia melakukan kunjungan resmi ke Arab Saudi untuk menjalankan umrah, dilanjutkan dengan pertemuan dengan Ibu Negara Turki, Emine Erdoğan. Dalam kapasitasnya, Latifa dilaporkan fokus pada isu-isu kemanusiaan, pemberdayaan perempuan, dan tentu saja, pendidikan.

Dari seorang wanita dengan latar belakang keluarga bersejarah, melalui fase kehidupan yang penuh kehati-hatian di masa sulit, hingga akhirnya tampil mewakili negaranya di panggung internasional. Itulah sekelumit kisah Latifa al-Droubi, yang kini menjalani peran barunya di tengah sorotan.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar