Dari Ladang ke Lencana: Kisah Dua Perwira Polisi yang Tak Kenal Menyerah

- Selasa, 16 Desember 2025 | 22:45 WIB
Dari Ladang ke Lencana: Kisah Dua Perwira Polisi yang Tak Kenal Menyerah

Latar belakang ekonomi yang pas-pasan ternyata tak pernah bisa membunuh mimpi. Itulah yang dibuktikan oleh Ipda Eko Nursetiawan dan Ipda Agung Saputra. Keduanya, anak dari buruh tani, akhirnya resmi menyandang pangkat perwira polisi usai menuntaskan pendidikan Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS) Gelombang II.

Di Akademi Kepolisian, Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo sendiri yang memimpin pelantikan bersejarah itu. Bisa dibayangkan, bagi keluarga mereka yang hidup serba sederhana, momen ini pasti terasa seperti mimpi yang jadi kenyataan.

Dalam sambutannya, Komjen Dedi menekankan bahwa penguatan SDM Polri adalah bagian penting dari peta jalan menuju Indonesia Emas 2045. Hal ini, katanya, juga selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

"Hari ini saudara resmi menyandang pangkat Inspektur Polisi Dua. Ini bukan sekadar kelulusan, tetapi awal dari tanggung jawab besar untuk hadir dan memberi solusi atas persoalan masyarakat," tegas Komjen Dedi, Selasa (16/12/2025).

Menurutnya, Polri saat ini butuh sosok perwira yang lincah, punya integritas, dan responsif. Figur yang bisa menjawab tantangan zaman sekaligus memenuhi harapan masyarakat akan pelayanan kepolisian yang lebih manusiawi.

Perjalanan Panjang Dua Perwira Baru

Ipda Eko Nursetiawan, alumni Universitas Jenderal Soedirman, bahkan termasuk lulusan terbaik di angkatannya. Dia menyabet penghargaan Tanggon Kosala untuk aspek sikap dan perilaku. Selama pendidikan, Eko dipercaya memegang jabatan Danyon Korpsis, yang jelas menunjukkan kualitas kepemimpinannya.

Namun begitu, jalan yang dilaluinya tak mulus. Dia adalah anak dari Taslim, seorang petani. Sejak kecil, Eko sudah ditinggal ibunya yang memilih menjadi TKW di luar negeri demi menopang ekonomi. Sempat gagal seleksi Bintara Polri pada 2015, dia tak patah arang. Tahun 2024, dia mencoba lagi lewat jalur SIPSS dan gagal lagi. Barulah di 2025, kesempatan itu datang. Perjuangan panjangnya akhirnya berbuah manis.

Kisah perjuangan serupa datang dari Ipda Agung Saputra. Dia adalah anak dari almarhum Anton dan Watira yang berprofesi sebagai petani dan buruh tani. Ayahnya telah lama meninggal, sementara ibunya bertahan sebagai buruh tani.

Bayangkan, lebih dari sepuluh tahun Agung berusaha masuk ke institusi penegak hukum. Tidak kurang dari sepuluh kali dia mencoba, mulai dari seleksi Bintara PTU (2019-2024), Bintara Rekpro, Tamtama Brimob, hingga Bintara TNI AL. Semuanya mentah.

Hingga akhirnya, di tahun 2025 ini, doa tanpa henti dari sang ibu dan ikhtiarnya yang pantang menyerah membawanya lulus SIPSS. Selama diklat, Agung menjabat sebagai Polsis 1A, menunjukkan dedikasi yang tak diragukan lagi.

Dari dua cerita ini, satu hal yang jelas: perubahan di tubuh Polri bisa dimulai dari proses rekrutmen yang adil dan memberi kesempatan sama. Dari ladang-ladang tandus dan doa seorang ibu, lahir perwira-perwira baru yang siap mengabdi dengan sepenuh hati.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler