Namun begitu, nada bicaranya berubah ketika perbandingan mulai dilakukan. Kebaikan yang diterima pegawai SPPG justru menyoroti ketimpangan yang telanjang di sektor lain. Edy merasa ini tidak adil. Bagaimana mungkin mereka yang bertugas mengantar dan mendistribusikan bantuan pangan mendapat kepastian, sementara para guru dan nakes yang mengabdi puluhan tahun masih hidup dalam ketidakpastian?
Kekhawatirannya nyata. Edy mendesak agar persoalan pelik ini segera dikoordinasikan dengan Presiden Prabowo Subianto. Tanpa penyelesaian yang serius, protes hanya akan berlarut dan memantik masalah baru. Ia bahkan menyebutkan sebuah gambaran yang cukup menusuk.
Pernyataannya itu seperti tamparan. Intinya sederhana: negara dinilainya berlaku timpang. Di satu sisi, ada contoh bagus pemenuhan hak pekerja. Di sisi lain, ada puluhan ribu tenaga pendidik dan kesehatan yang masih menunggu janji. Dan ironi itu, terjadi di bawah atap yang sama.
Artikel Terkait
Serangan Drone Guncang Pabrik Suriah, Gencatan Senjata Langsung Diuji
Sjafrie Sjamsoeddin Tegaskan Kesiapan Indonesia Hadapi Perang Berlarut
Kotak Kayu Mirip Pocong di Kulon Progo Ternyata Cuma Berisi Tanah
Pemerintah Cabut Izin Perkebunan Rp14,5 Triliun di Atas Tanah Milik TNI