Di sisi lain, figur yang tampil rapi, konseptual, dan intelektual justru bisa tenggelam. Pemilih malah menghindarinya. Mereka lebih memilih yang ‘sehati’, bahkan yang terlihat susah dan didzalimi. Intinya, siapa yang paling jago memainkan perasaan rakyat, dialah yang diuntungkan.
Politik kita, dalam pandangannya, masih digerakkan emosi. Bukan oleh analisis mendalam, visi yang hebat, atau kompetensi calon. Tapi lebih pada siapa yang paling piawai berakting merakyat.
Namun begitu, Sutoyo menegaskan bahwa faktor-faktor tadi bukanlah penentu mutlak.
Ada kekuatan lain yang lebih menentukan: modal. Kekuatan untuk membeli suara, merekayasa hasil, mengendalikan semua aktor pemilu, bahkan menentukan angka kemenangan jauh hari sebelum hari pencoblosan.
Di balik suksesnya rakernas, Sutoyo melihat ada teka-teki yang mengganjal. Sebagian anggota Gerakan Rakyat konon bertanya-tanya: kenapa Anies Baswedan sendiri tidak mengambil posisi sebagai Ketua Umum partai baru ini? Padahal, secara historis, kakeknya, AR Baswedan, adalah pahlawan nasional yang punya akar kuat di masyarakat Jawa. Pertanyaan itu, bagi banyak pengamat, mungkin akan terus bergaung menjelang kontestasi 2029.
Artikel Terkait
Wali Kota Madiun Diperiksa KPK, Ratusan Juta Disita dari OTT
Prabowo dan London: Kisah Rumah Kedua yang Menjadi Diplomasi
Gaji Guru Kalah dari Tukang Cuci Piring: Prioritas Negara yang Tumpul
Depresi Usai Dipalak Miliaran, Ibu Rumah Tangga Loncat dari Kapal Feri