Malam itu di Bandara Soekarno-Hatta, suasana tegang menyambut kedatangan seseorang yang sangat dinanti. Dewi Astutik, atau yang akrab disapa Mami, akhirnya tiba di tanah air. Ia baru saja diekstradisi dari Kamboja, tepatnya dari Sihanoukville, setelah ditangkap sehari sebelumnya. Perempuan ini bukan sembarang penumpang; dia adalah buronan internasional yang diduga menyelundupkan sabu dengan berat mencapai dua ton.
Dari dalam pesawat, ia terlihat turun dengan pakaian sederhana: kaus putih polos dan celana panjang. Sebuah masker hitam sempat menutupi sebagian wajahnya, sebelum akhirnya dibuka. Tapi yang paling mencolok adalah borgol di pergelangan tangannya bukan borgol besi, melainkan kabel ties putih yang melilit erat.
Langkahnya tak bebas. Beberapa anggota BNN, baik pria maupun wanita, mengawalnya dengan sangat ketat. Mereka mengiringi Dewi menuju mobil yang telah menunggu, memastikan tak ada celah sedikitpun.
Menurut Kepala BNN Komjen Pol Suyudi Ario Seto, pekerjaan berat justru dimulai sekarang. “Ia akan menjalani pemeriksaan intensif,” tegasnya dalam jumpa pers di bandara yang sama.
Alasannya jelas. Jaringan yang diduga ia naungi bukan main-main. Ini adalah bagian dari sindikat Golden Triangle yang bisnis gelapnya merambah banyak negara.
“Jejaring ini diketahui beraktivitas dalam pengambilan dan distribusi narkotika berbagai jenis, termasuk kokain, sabu, dan ketamin, menuju Asia Timur dan Asia Tenggara,” papar Suyudi. Targetnya adalah mengurai benang kusut alur pendanaan, logistik, dan semua pihak yang terlibat.
Perjalanan hidup Dewi ternyata cukup berliku. Sebelum tersandung kasus besar ini, ia sempat merantau ke Taiwan sebagai Tenaga Kerja Wanita. Ia lalu meninggalkan Indonesia menuju Kamboja pada 2023. Namun, pilihan jalannya berbelok ke arah yang gelap.
Gelar buronan melekat padanya sejak 2024. Itu semua berawal dari pengungkapan polisi atas kasus penyelundupan sabu yang meraksasa. Puncaknya terjadi pada Mei 2025 penyitaan mencapai 2 ton narkoba dengan nilai fantastis, sekitar Rp 5 triliun. Sebuah angka yang menggambarkan betapa luas dan berbahayanya jaringan ini.
Kini, di balik pengawalan ketat, pemeriksaan mendalam segera dimulai. Banyak pertanyaan menunggu jawaban dari perempuan 43 tahun itu.
Artikel Terkait
Bayern Munich Balas Gol Cepat Stuttgart dengan Amukan Tiga Gol
Menantu Tewaskan Mertua dengan Golok di Lampung Selatan
Rabiot Pecah Kebuntuan, AC Milan Bungkam Verona 1-0
Mentan Ajak Wisudawan ITS Jadi Motor Inovasi Pertanian Hadapi Krisis Global