Deklarasi Partai Gerakan Rakyat: Sutoyo Abadi Soroti Politik Rasa dan Peta Dukungan untuk Anies
Organisasi massa pendukung Anies Baswedan, Gerakan Rakyat, resmi berubah wujud. Lewat Rakernas I di Jakarta pada 18 Januari 2026, mereka mendeklarasikan diri sebagai partai politik dengan nama Partai Gerakan Rakyat. Sahrin Hamid pun ditetapkan memimpin partai baru ini untuk lima tahun ke depan.
Merespons langkah itu, Sutoyo Abadi dari Merah Putih mengucapkan selamat. Namun, di balik ucapan selamatnya, terselip harapan dan analisis politik yang cukup tajam.
“Selamat. Semoga setelah jadi partai, Gerakan Rakyat bisa menopang Anies Baswedan maju lagi di Pilpres 2029 nanti,” ujar Sutoyo, Selasa (20/1).
Ia lalu menyelipkan semacam ‘peringatan’ berdasarkan pengalaman tim sukses di lapangan. Menurutnya, mereka yang punya kepekaan tinggi terhadap psikologi massa paham betul kondisi politik Indonesia yang masih hidup dan nyata.
“Ciri pemilih kita itu unik. Perilakunya kadang terlihat aneh, tidak rasional, tapi itu benar-benar terjadi,” tambahnya.
Bagi Sutoyo, pilihan rakyat seringkali tidak jatuh pada pemimpin yang cerdas, pidatonya rapi, atau visinya paling masuk akal. Justru sebaliknya.
“Pilihan justru selalu karena alasan yang tidak rasional. Mainnya di psikologi massa. Rasa kasihan, iba, kelihatan dizalimi, direndahkan, atau kelihatan lemah,” sindirnya.
Ia melanjutkan, politik pencitraan seperti blusukan, memanggul beras, atau tampil sederhana menjadi senjata ampuh. Semuanya dipermak dengan rasa dan kesan, bukan kekaguman, melainkan belas kasihan.
Di sisi lain, figur yang tampil rapi, konseptual, dan intelektual justru bisa tenggelam. Pemilih malah menghindarinya. Mereka lebih memilih yang ‘sehati’, bahkan yang terlihat susah dan didzalimi. Intinya, siapa yang paling jago memainkan perasaan rakyat, dialah yang diuntungkan.
“Apalagi capres yang tampil sombong, galak, tegas. Itu malah jadi figur yang ditakuti, dianggap ancaman,” ucap Sutoyo lagi.
Politik kita, dalam pandangannya, masih digerakkan emosi. Bukan oleh analisis mendalam, visi yang hebat, atau kompetensi calon. Tapi lebih pada siapa yang paling piawai berakting merakyat.
Namun begitu, Sutoyo menegaskan bahwa faktor-faktor tadi bukanlah penentu mutlak.
“Apakah itu variabel paling menentukan? Jawabannya pasti tidak,” tegasnya.
Ada kekuatan lain yang lebih menentukan: modal. Kekuatan untuk membeli suara, merekayasa hasil, mengendalikan semua aktor pemilu, bahkan menentukan angka kemenangan jauh hari sebelum hari pencoblosan.
Di balik suksesnya rakernas, Sutoyo melihat ada teka-teki yang mengganjal. Sebagian anggota Gerakan Rakyat konon bertanya-tanya: kenapa Anies Baswedan sendiri tidak mengambil posisi sebagai Ketua Umum partai baru ini? Padahal, secara historis, kakeknya, AR Baswedan, adalah pahlawan nasional yang punya akar kuat di masyarakat Jawa. Pertanyaan itu, bagi banyak pengamat, mungkin akan terus bergaung menjelang kontestasi 2029.
Artikel Terkait
Persebaya Surabaya Hentikan Tren Negatif dengan Kemenangan 2-0 atas Malut United
Polisi Bekuk Perampok Pura-Pura Pinjam HP di Parkiran Masjid Langkat, Pelaku Residivis
Wakapolri Dorong Brimob Tingkatkan Kemampuan Hadapi Ancaman Hybrid dan Perkuat Peran Pelindung Masyarakat
Menteri Angkatan Laut AS John Phelan Dipecat Mendadak di Tengah Perombakan Besar-Besaran Militer