Ngobrol dengan Kucing Bukan Cuma Omong Kosong, Sains Buktikan Mereka Paham Perasaan Kita

- Senin, 19 Januari 2026 | 19:06 WIB
Ngobrol dengan Kucing Bukan Cuma Omong Kosong, Sains Buktikan Mereka Paham Perasaan Kita

Pernah dengar julukan "crazy cat lady"? Atau anggapan bahwa orang yang sering ngobrol dengan kucing itu kesepian? Stereotip itu memang sering muncul, bahkan jadi bahan candaan di film-film. Karakternya digambarkan sedang bertanya pada kucingnya, lalu dijawab tatapan kosong. Lucu sih, tapi bagi banyak orang, momen seperti itu justru sesuatu yang sangat personal.

Bagi jutaan pemilik kucing, ritual ngobrol dengan si meong bukanlah tanda kesendirian. Ini lebih seperti kebiasaan intim. Saat pulang kerja lelah, atau lagi senang dapat kabar baik, siapa yang pertama kali kita sapa? Seringnya, kucing. Lantas, apa ini cuma pelampiasan perasaan manusia belaka? Atau memang ada sesuatu yang nyata terjadi dalam "percakapan" lintas spesies ini?

Menurut saya, ngobrol dengan kucing itu justru salah satu bentuk komunikasi yang jujur dan menyehatkan di zaman sekarang. Ini bukan monolog sepihak. Ada pertukaran yang terjadi, meski bahasanya berbeda. Dan menariknya, sains mulai menguak bahwa perasaan kita "dimengerti" oleh kucing itu bukan sekadar khayalan.

Benarkah Kucing Bisa Baca Perasaan Kita?

Banyak yang bilang kucing cuma peduli sama yang isi mangkok makannya. Titik. Tapi penelitian terbaru menunjukkan hal yang lebih dalam. Kemampuan kognitif sosial mereka ternyata cukup kompleks.

Ambil contoh studi yang dilakukan Moriah Galvan dan Jennifer Vonk, terbit di jurnal Animal Cognition tahun 2016. Penelitian itu memberi validasi ilmiah buat para "pengobrol kucing". Intinya, kucing rumahan bisa mengenali emosi pemiliknya lewat raut wajah dan nada suara.

Caranya gimana? Kucing-kucing itu diperlihatkan ekspresi wajah pemiliknya yang sedang senang dan marah, plus ekspresi orang asing. Hasilnya cukup mengejutkan. Perilaku kucing berubah jelas saat melihat pemiliknya tampak bahagia. Mereka lebih sering mendekat, mendengkur, atau menggesekkan badan. Sebaliknya, saat pemiliknya marah, mereka cenderung waspada dan menjaga jarak.

Nah, ini artinya apa? Komunikasi kita sama mereka nggak cuma angin lalu. Saat kita bicara dengan nada lembut, kucing nangkep emosi di baliknya. Mereka membaca "suasana hati" kita. Jadi, perasaan bahwa kucing datang menghibur saat kita sedih, besar kemungkinan memang respons mereka terhadap emosi kita, bukan cuma kebetulan.


Halaman:

Komentar