Ramadan di Jakarta selalu punya magnetnya sendiri. Salah satunya adalah keriuhan 'war' takjil di Bendungan Hilir, atau yang lebih dikenal dengan Benhil. Kawasan itu sudah jadi ikon, tempat orang-orang berburu hidangan untuk berbuka. Tapi tahun ini, ceritanya agak berbeda.
Di balik keramaian yang terlihat, banyak pedagang justru mengeluh. Omzet mereka anjlok, jauh dari tahun-tahun sebelumnya. Padahal, istilah 'war' sendiri seolah menjanjikan keriuhan pembeli yang saling berebut.
Yusra, salah satu pedagang di sana, merasakan betul penurunan itu. Pria yang biasa jual nasi padang ini, selama Ramadan menawarkan bubur kampiun. "Kalau tahun kemaren sih kita bisa laku seribu porsi sehari," ujarnya.
Tapi sekarang? Jauh sekali.
"Karena sering hujan ya, konsumen pada nggak dateng," keluhnya saat ditemui di lokasi dagangnya, suatu Sabtu di pertengahan Ramadan. Menurut Yusra, pola pembeli tahun ini berubah total. Biasanya, awal Ramadan pasti ramai. Lalu agak sepi di pertengahan, sebelum ramai lagi di akhir pekan.
Namun begitu, tahun ini pola itu tak berlaku. Hujan sore yang kerap mengguyur disebut-sebut jadi biang keladi. "Untuk sekarang ini belum bisa (capai penjualan porsi besar). Paling baru 20 sampai 35 porsi," terangnya. Ia menambahkan, bahkan akhir pekan pun sekarang harus pasrah pada cuaca. "Itu pun kalau cuaca bagus ya, nggak hujan."
Keluhan serupa datang dari Upi, penjual asinan. Ia membenarkan bahwa slogan soal ramainya Benhil tak selalu sesuai fakta di lapangan. Pengalamannya tahun ini mirip dengan Yusra: sepi dan sepi.
Jadi, meski dentang 'perang' takjil masih terdengar, bagi sebagian pedagang, yang terjadi lebih mirip pertempuran menghadapi cuaca dan menunggu pembeli yang tak kunjung datang. Suasana Ramadan di bazar ternyata punya dua sisi yang sangat berbeda.
Artikel Terkait
Wali Kota Makassar Ancam Copot Kepala Sekolah yang Paksa Iuran untuk Acara Perpisahan
Polri Bongkar Mafia BBM Subsidi, Rugikan Negara Rp243 Miliar dalam 13 Hari
KPK Periksa Karyawan Perusahaan Milik Bupati Pekalongan Terkait Dugaan Pengondisian Proyek
PM Australia Ucapkan Terima Kasih atas Ekspor Pupuk Urea 250.000 Ton dari Indonesia