Matahari terik menyengat, klakson kendaraan bersahutan. Di tengah keriuhan itu, Firman berdiri tenang di perempatan Jalan HOS Cokroaminoto, Menteng. Usianya sudah lewat 70 tahun. Punggungnya tak lagi tegak, langkahnya pun pelan. Tapi setiap hari, ia masih ada di sana, menjajakan koran. Sudah lebih dari empat puluh tahun ia melakukan hal yang sama.
Ia bukan cuma penjual koran biasa. Lebih dari itu, Firman adalah saksi bisu perubahan zaman. Ia ingat betul era ketika orang harus menunggu esok hari untuk membaca berita. Kini, semua informasi tersaji dalam genggaman, hanya dalam hitungan detik.
“Saya jualan koran, Mah, kalau itungan ini sudah tahun 70 ini. Ini sudah 40 tahun lebih saya jualan koran,” ujarnya, sambil tertawa lepas.
“Dari zamannya HI sampai Kuningan dibuka, jalan Kuningan zaman Ali Sadikin, hahaha.”
Rutinitasnya dimulai pagi-pagi benar. Koran-koran datang dari agen. Tapi perjuangan sesungguhnya baru dimulai saat ia melangkah. Ia berkeliling dengan berjalan kaki, menyusuri rute yang itu-itu saja di sekitar lampu merah.
“Kalau keliling mah, kalau sampai sini mah kadang setengah 8, jam 8 baru mulai. Ntar jam setengah 12, jam 12 kurang istirahat. Salat dulu,” ceritanya.
“Ntar jam 1 lewat baru mulai lagi. Ntar jam 3 lewat, ashar pulang. Kelar, hehe.”
Jaraknya tak pernah ia hitung. Baginya, yang penting langkahnya. Dari mobil ke mobil, di tengah lalu lintas yang tak pernah berhenti. “Dari sini aja, lampu merah ini aja, berapa mobil, berapa mobil,” katanya singkat.
Sekarang, ia hanya membawa sekitar 30 eksemplar. Jauh menurun dibanding masa jayanya dulu. “Kalau sekarang, Mah, hitungannya ya partai sekitar 30 lebih lah. Kita mah ngomong apa adanya aja, bu,” akunya jujur.
Harganya beragam. Ada yang Rp 4.000, ada yang sampai Rp 14 ribu. Bahkan majalah mingguan bisa tembus Rp 60 ribu. Pembelinya? Macam-macam. Mulai dari pengendara yang sekadar lewat, pelanggan setia, sampai anak sekolah dan mahasiswa yang butuh bahan kliping.
“Anak sekolah, kadang-kadang orang kuliah. Yang kuliah ini kan, kadang-kadang kalau lagi ada perlunya baru beli. Beritanya yang bagus, dibeli ama dia, ada yang diambil buat kliping, haha.”
Kalau ada sisa yang tak laku, ya dikumpulkan. Lalu dijual kiloan. “Disimpan di kilo. Nah, itungannya begitu bu,” ucapnya, tawa khasnya kembali terdengar. “Majalah nggak bisa kembali, semuanya nggak bisa kembali. Sudah hitung uang, setor.”
Firman paham zamannya sudah berubah. Ia tak membantah bahwa sekarang orang lebih suka baca berita lewat "handphone". “Iya, ngerti. Kalau orang biasa main "handphone", ya "handphone". Kalau ada yang biasa baca koran ya koran,” katanya lugas.
Tapi baginya, koran ini sudah jadi bagian hidup. Sebuah kebiasaan, dan cara bertahan. “Ya, setiap hari lah jalan kaki. Namanya jualan, kan, perjuangan,” ujarnya.
Tanya soal penghasilan? Ia malah bercanda. “Kalau penghasilan saya nggak bisa bilang sekian-sekian. Ibu bisa nebak sendiri lah penghasilan saya bagaimana, nanti kalau saya bilang sekian ah ngebohong.”
Beralih profesi? Rasanya tak terpikir. “Bukan masalah profesi itu, ya. Namanya orang udah keenakan. Kita jalanin aja apa adanya, bu. Itu kan menikmati yang penting.”
Menjelang ashar, ia bersiap pulang ke Parung Panjang, Bogor Barat. “Asar pulang. Waktunya ya pulang,” katanya pendek.
Di usianya yang senja, ia sudah merasakan segalanya. “Dari manis sampe pahit kan, biasanya manis lagi, pahit lagi, kan udah ngerasainlah namanya di jalanan. Suka dukanya sudah biasa gitu.”
Ia sadar masa depan media cetak makin suram, terutama di kawasan Menteng. “Di Menteng ini sudah kurang, ibu. Kecuali di pinggiran.”
Namun begitu, ia bertahan. Bukan karena tak tahu arah angin, tapi karena ia sudah terlalu lama hidup bersama koran dan rutinitas ini.
“Zaman dulu kan kita itungannya koran, nunggu berita hari ini, besok baru masuk. Kalau sekarang hitungan detik sudah masuk berita,” ujarnya.
“Yang penting sabar aja. Namanya usaha, ya kan.”
Di tengah banjir digital yang menderas, Firman masih setia di perempatan itu. Lembaran koran yang ia jual bukan cuma memuat kabar. Tapi juga kisah tentang ketekunan, kesabaran, dan kesetiaan pada sebuah profesi yang perlahan tapi pasti, terus tergerus zaman.
Artikel Terkait
Buronan KKB Tewas Ditembak Satgas di Puncak Jaya
Polisi Tasikmalaya Bongkar Jaringan Perburuan dan Penjualan Trenggiling
Yos Rizal Pimpin GMKI FMIPA UNIMED Periode 2026-2027
Perselisihan Anak Picu Pembunuhan Parang di Pulau Kodingareng, Pelaku Serahkan Diri