✍🏻 Balqis Humaira
Jujur, dari dulu gue gak pernah terlalu ambil pusing sama Raffi Ahmad. Mau dia makin tajir, makin tenar, atau makin sering nongol di timeline, itu urusan dia. Hidup gue gak berubah.
Tapi yang bikin gue tertarik bukan orangnya. Polanya. Dan kebetulan, berbagai bisnis yang pakai namanya itu… rasanya cocok banget untuk satu fungsi klasik: jadi parkiran duit yang nggak jelas asalnya.
Di dunia nyata, uang hasilan nggak mungkin disimpen di lemari. Harus disamarin. Diputer-puter. Dicuci. Nah, cara nyuci yang paling aman itu justru lewat bisnis yang keliatannya bersih dan disukai banyak orang. Tempat di mana orang sibuk swafoto dan bilang "keren banget", sementara hampir nggak ada yang kepo: duit buat bikin ini semua datangnya dari mana, sih?
Di sinilah bisnis hiburan, properti, klub bola, sampai kebun binatang punya peran. Secara struktur, bisnis model gini itu ideal. Valuasinya gampang digoreng. Laporan untung-ruginya susah dilacak publik. Dan kalau ada yang nanya, tinggal bilang, "Ini kan bisnis hiburan, bro." Titik.
Jadi gue mau lurusin dulu. Ini bukan soal Raffi Ahmad pribadi. Ini soal alasan figur kayak dia selalu dibutuhkan dalam permainan uang besar. Kenapa duit dari sektor-sektor yang bau kayak tambang atau proyek tanah selalu butuh wajah yang bersih dan disayang publik buat masuk ke kota.
Kalau lo punya duit dari bisnis yang merusak lingkungan atau penuh konflik, ya nggak mungkin dipajang. Lo simpen itu di balik brand yang ceria. Di proyek yang keliatan lucu, ramah keluarga, penuh senyum. Di situ, pertanyaan soal asal-usul duit bakal mati dengan sendirinya.
Nah, masalahnya ada di sini. Sistemnya memang dibikin kayak gini. Uang kotor nggak perlu lagi sembunyi di tempat gelap. Cukup beli citra, beli wajah publik, beli cerita sukses yang instagramable.
Kalau lo telusuri pelan-pelan, yang kita lihat ini bukan cuma ekspansi bisnis artis. Ini pola lama banget: caranya uang besar nyari tubuh yang aman buat numpang hidup.
Dan ini bukan omong kosong. Coba lihat struktur bisnis RANS. Polanya konsisten: mereka jarang ngeluarin modal gede buat proyek fisik. Posisinya lebih ke partner brand dan wajah publik. Lahannya, bangunannya, duit konstruksinya biasanya dari mitra pengembang atau pengusaha dari sektor lain. RANS nyetor nama, citra, dan eksposur. Secara bisnis sih sah-sah aja.
Tapi dalam logika pencucian uang dan reputasi, ini pola yang sempurna.
Ambil contoh yang paling jelas: koneksi Bangka Belitung ke Gunungkidul. Di satu sisi, ada mitra bernama Arbi Leo, yang bisnis utamanya pertambangan timah dan titanium di Bangka sektor yang sejarahnya sarat konflik dan kerusakan alam. Di sisi lain, muncul proyek Beach Club di Gunungkidul lewat PT Agung Rans Bersahaja Indonesia. Di atas kertas, ini proyek pariwisata. Tapi polanya klasik: duit dari sektor yang menyedot hasil alam diparkir ke sektor wisata yang bersih dan fotogenik.
Peran RANS di sain apa? Bukan penyedia dana. Bukan yang gali tanah. Tapi pemberi wajah. Pemberi legitimasi.
Artikel Terkait
Prasetyo Hadi: e-Voting Perlu Kajian Mendalam, Jangan Asal Tiru Negara Lain
Dasco Buka Peluang E-Voting di Pemilu, Tapi Ingatkan Bahaya Kreativitas Hasil
Kumparan Rayakan 9 Tahun dengan Live Seru dan Hadiah Rp 99 Juta
Revisi UU Perlindungan Saksi dan Korban Dikebut, Sorotan Kuat untuk Atur Child Grooming