Suasana di Kota Majdal Selm, Lebanon selatan, berubah jadi pilu setelah serangan udara Israel menghantam sebuah rumah. Tak cuma bangunan yang runtuh, nyawa sekeluarga pun ikut melayang.
Menurut laporan Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), yang dikutip Al Jazeera Jumat lalu, sembilan orang dari keluarga yang sama menjadi korban. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak. Detailnya memang masih simpang siur, tapi angka itu sendiri sudah cukup menggambarkan betapa tragisnya kejadian ini.
Di sisi lain, situasi makin panas. Seorang reporter Al Jazeera di lapangan menyaksikan dua serangan udara terpisah yang menyasar Kota Hanin. Tak berhenti di situ, daerah Kfarjouz di Nabatieh juga jadi target tembakan pasukan Israel.
Serangan-serangan ini bukanlah insiden tunggal. Beberapa hari belakangan, Israel memang terlihat meningkatkan intensitas serangannya ke Lebanon. Imbasnya, warga sipil yang paling merasakan getirnya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun angkat bicara. Mereka menilai serangan Israel ini hanya membawa kesengsaraan dan penderitaan bagi rakyat Lebanon biasa. Warga sipil, kata PBB, "membayar harga yang sangat mahal" dalam gelombang pengeboman dan serangan darat yang meluas ini.
Ravina Shamdasani, juru bicara Kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, mengeluarkan pernyataan tegas.
"Oleh karena itu mempertanyakan efektivitasnya, sebuah persyaratan berdasarkan hukum humaniter internasional, dan berisiko berujung pada pengusiran paksa yang dilarang," tulisnya.
Dia menjelaskan, evakuasi massal yang terjadi di pinggiran Beirut dan Lembah Bekaa sudah begitu luas. Hal ini justru menyulitkan penduduk untuk benar-benar mengungsi dengan aman.
Gabungan antara perintah evakuasi dan serangan langsung ke permukiman warga, menurut Shamdasani, hanya menambah beban penderitaan penduduk sipil yang sudah lelah. Situasinya makin runyam.
"Kami mendesak para pihak untuk mundur dari ambang eskalasi besar konflik ini di Lebanon," tambahnya.
Peringatan itu menggantung. Sementara di tanah Lebanon, dentuman masih mungkin terdengar, dan ketakutan warga belum juga reda.
Artikel Terkait
Jadwal Salat DKI Jakarta Hari Ini, 22 April 2026
Dankor Brimob Tegaskan Kekuatan Fisik Hanya Opsi Terakhir dalam Penanganan Aksi Massa
Empat WN China Dideportasi dari Gorontalo Bawa Sampel Tanah Tambang
Cemburu Picu Pembunuhan di Bandung, Pelaku Ditangkap Usai Kabur ke Indramayu