Membaca unggahan terbaru Susilo Bambang Yudhoyono di media sosial, siapa pun bisa merasakan getar kekhawatiran yang dalam. Mantan presiden keenam Republik Indonesia itu tak lagi sekadar mengamati. Ia tampak cemas, bahkan gelisah, menyaksikan arah angin geopolitik global yang kian tak menentu. Dan di ujung kegelisahannya, ada satu bayangan yang terus menghantui: kemungkinan pecahnya Perang Dunia Ketiga.
Menurut SBY, potensi itu sangat nyata. Bahkan, sangat mungkin terjadi. Yang membuatnya makin was-was, belum terlihat sinyal kuat dari para pemimpin dunia untuk benar-benar meredam ketegangan yang ada. Mereka seolah terjebak dalam pola pikir lama, sementara waktu untuk berdamai terus menyempit.
"Terus terang saya khawatir," tulisnya di akun X pribadi, @SBYudhoyono, pada Senin (19/1).
"Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga."
Pernyataannya itu bukan sekadar peringatan singkat. Ia melanjutkan dengan analisis yang lebih panjang, merujuk pada sejarah dan pengamatannya selama puluhan tahun.
"Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah," tambahnya.
Namun begitu, keyakinan itu dibayangi realitas yang suram. Ia melihat banyak kemiripan antara situasi sekarang dengan masa-masa jelang dua perang dunia sebelumnya. Ada pemimpin-pemimpin kuat yang haus konflik, aliansi-aliansi yang saling berhadapan, dan perlombaan senjata yang masif. Geopolitik saat ini, dalam pandangannya, benar-benar panas.
Yang memilukan, sejarah sering berulang. Tanda-tanda perang besar kerap diabaikan. Kesadaran untuk mencegahnya justru tidak muncul, entah karena ketidakpedulian atau rasa tak berdaya.
SBY mengaku terus berdoa agar mimpi buruk perang nuklir itu tak pernah terwujud. Tapi ia sadar, doa saja tidak cukup. Butuh aksi nyata dari seluruh penghuni bumi. Ia mengutip Edmund Burke dan Albert Einstein, bahwa kehancuran dunia sering terjadi bukan karena ulah orang jahat, melainkan karena diamnya orang-orang baik.
Lalu, apa jalan keluarnya?
SBY punya usulan konkret. Ia mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengambil inisiatif. Organisasi dunia itu harus segera menggelar Sidang Umum Darurat, mengumpulkan para pemimpin global untuk membahas langkah nyata mencegah krisis besar.
Ia tahu, wibawa PBB saat ini boleh dibilang sedang di ujung tanduk. Tapi justru karena itulah, tindakan simbolis sekalipun punya makna. "Janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran," tegasnya.
Seruan ini mungkin akan tenggelam, bagai suara di padang gurun. Tapi bisa juga ini jadi awal dari sebuah kesadaran kolektif baru. Semuanya tergantung pada kemauan. Seperti kata pepatah yang ia akhiri tulisannya: if there is a will, there is a way.
Artikel Terkait
Handphone di Saku Mayat Pria di Kebun Jagung Jombang Jadi Petunjuk Utama
Saksi Ungkap Permintaan Uang Rp3 Miliar dari Eks Wamenaker Noel di Sidang
Polisi Gagalkan Penjualan Ilegal 200 Tabung Elpiji Bersubsidi di Blora
Baleg DPR Gelar Rapat Final RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga