Krisis Wibawa Guru: Ketika Pendidikan Kehilangan Ruhnya

- Minggu, 18 Januari 2026 | 15:06 WIB
Krisis Wibawa Guru: Ketika Pendidikan Kehilangan Ruhnya

Belakangan ini, dunia pendidikan kita kembali memunculkan cerita-cerita yang memilukan. Kasus demi kasus, relasi antara guru dan murid tampak retak. Ambil contoh peristiwa di Jambi, seorang guru dilaporkan karena menampar siswanya. Tentu saja, kekerasan terhadap anak tak bisa dibenarkan dengan alasan apapun.

Tapi, jangan buru-buru melihatnya sebagai persoalan hitam-putih. Ada sesuatu yang lebih dalam di balik ini semua, sebuah gejala kegagalan kita dalam membentuk manusia yang beradab.

Keseimbangan yang Hilang

Idealnya, hubungan guru dan murid dibangun dari rasa hormat dan keteladanan. Guru bukan cuma mesin pengajar materi. Mereka punya mandat sosial untuk membimbing dan membentuk karakter. Sayangnya, relasi itu sekarang terasa sangat rapuh.

Guru seringkali berada di posisi serba salah. Di satu sisi, ada tuntutan untuk mendisiplinkan. Di sisi lain, atas nama HAM dan perlindungan anak, banyak tindakan korektif yang bermaksud baik justru berbalik menjadi pasal pelanggaran. Bahkan berujung pada kriminalisasi.

Memang, semua sepakat kekerasan itu salah. Namun begitu, pendidikan juga bukan sekadar logika benar-salah yang kaku. Ada konteks, ada niat mendidik, yang sering terabaikan. Akibatnya, otoritas moral guru pelan-pelan terkikis. Ketegasan yang manusiawi malah dilihat sebagai ancaman. Sekolah pun perlahan kehilangan wibawanya sebagai tempat membangun karakter.

Runtuhnya Kepercayaan

Masalah makin runyam ketika sebagian orang tua merespons dengan cara yang kurang tepat. Alih-alih berdialog dulu dengan sekolah, sedikit saja ketidakpuasan langsung berujung pada pelaporan. Sekolah tak lagi dilihat sebagai mitra, tapi lebih sebagai pihak yang harus selalu dicurigai.

Padahal, mendidik itu tanggung jawab bersama. Begitu kepercayaan ini runtuh, yang rugi bukan cuma guru. Anak-anak pun tumbuh dengan persepsi yang keliru: bahwa guru adalah figur yang bisa mereka tekan dan perlakukan semaunya. Dalam jangka panjang, fondasi etika sosial kita yang akan bobrok.

Mengajar, Bukan Lagi Mendidik

Dihadapkan pada tekanan hukum dan tuntutan administratif yang menumpuk, banyak guru memilih jalan aman. Mereka datang, menyampaikan materi sesuai buku, lalu pulang. Titik. Pembinaan karakter? Itu dianggap wilayah yang terlalu berisiko untuk disentuh.

Pendidikan pun menyempit jadi urusan teknis belaka. Yang penting silabus tuntas, nilai terinput, laporan selesai. Tapi di balik itu, makna pendidikan sebagai proses pemanusiaan justru menguap. Bisa jadi kita menghasilkan lulusan dengan nilai bagus, tapi kosong empati dan miskin tanggung jawab. Inilah yang terjadi ketika pendidikan kehilangan ruhnya.

Melihat ke Belakang untuk Maju


Halaman:

Komentar