Sebenarnya, arah yang benar sudah lama ditunjukkan. Ki Hadjar Dewantara, misalnya, merumuskannya dengan sangat pas: ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
Artinya, pendidikan harus memberi teladan di depan, membangun semangat di tengah, dan mendorong dari belakang. Prinsip ini menempatkan pembentukan karakter dan adab sebagai inti segalanya. Ilmu pengetahuan itu penting, tapi ia baru bermakna ketika ditopang nilai moral. Tanpa adab, ilmu bisa berubah jadi bumerang.
Belajar dari Tetangga
Pengalaman negara-negara Asia Timur membuktikan, pendidikan berbasis karakter bukanlah mimpi. Ambil contoh Jepang. Di tingkat sekolah dasar, mereka tidak buru-buru mengejar prestasi akademik.
Anak-anak justru lebih dulu diajari disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan cara menghormati orang lain serta lingkungan. Sekolah jadi tempat pembiasaan nilai. Hasilnya? Masyarakat yang tertib dan beretika lahir dari fondasi itu. Mereka mendahulukan adab, baru ilmu.
Di Tiongkok, meski sistem pendidikannya terkenal kompetitif, pendidikan karakter tetap punya porsi penting. Disiplin, etos belajar, dan rasa hormat kepada guru ditanamkan sejak dini. Semua ini didukung oleh keterlibatan aktif pemerintah dan masyarakat. Nilai-nilai tradisional seperti penghormatan pada guru dan orang tua tidak ditinggalkan, malah dirajut dengan sistem modern. Prestasi dan adab berjalan beriringan.
Merumuskan Ulang Jalan Kita
Sudah waktunya kita menata ulang arah pendidikan. Penguatan karakter jangan cuma jadi slogan di atas kertas kurikulum. Ia harus hidup dalam keseharian di kelas. Bersamaan dengan itu, perlindungan hukum bagi guru juga harus jelas.
Perlu ada batasan yang adil: sejauh mana kewenangan guru untuk mendisiplinkan, dan bagaimana seharusnya murid bersikap kepada guru. Perlindungan anak dan perlindungan guru bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya harus seimbang agar sekolah tidak jadi tempat yang menakutkan, melainkan ruang yang menumbuhkan.
Untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Pada akhirnya, pendidikan adalah proyek peradaban jangka panjang. Bukan cuma urusan nilai dan ijazah, tapi ikhtiar membentuk manusia berilmu sekaligus beradab. Kalau pendidikan gagal menanamkan adab, yang dipertaruhkan adalah masa depan bangsa ini sendiri.
Cita-cita Indonesia Emas 2045 mustahil tercapai jika kita hanya mencetak generasi yang pintar secara kognitif tapi rapuh moralnya. Bonus demografi tanpa adab justru berpotensi jadi bencana. Sebaliknya, generasi yang beradab adalah fondasi paling kokoh untuk kemajuan yang berkelanjutan.
Indonesia Emas 2045 bukan cuma soal ekonomi atau teknologi. Ia adalah cita-cita peradaban. Dan peradaban besar hanya bisa dibangun oleh manusia-manusia yang beradab. Jika pendidikan kita berhasil menjalankan tugas mulianya, masa depan yang gemilang bukan sekadar harapan, tapi sebuah keniscayaan.
Artikel Terkait
Museveni Kembali Menang, Uganda Terbelah di Bawah Bayang-Bayang Ketakutan
Anies Soroti Sawit: Hutan Bukan Cuma Fotosintesis, Petani Kecil Hanya Dapat Remah
Ile Lewotolok Naik Status: 466 Letusan dalam Satu Malam Picu Level Siaga
Video Pengacara Bongkar Klaim Eggi Sudjana Soal Pelukan dengan Jokowi