Di tengah memanasnya situasi di Timur Tengah, kabar baik datang dari pemerintah Indonesia. Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, menyatakan bahwa kondisi pekerja migran kita di kawasan itu masih aman. Pernyataan ini disampaikan meskipun eskalasi konflik terus berlanjut pasca serangan AS dan Israel terhadap Iran.
“Semuanya masih dalam under control,” ujar Mukhtarudin.
Hal itu dia sampaikan usai sebuah acara penandatanganan kerja sama di kantornya, Jakarta, Kamis lalu. Intinya, sampai detik ini belum ada instruksi untuk mengevakuasi PMI, baik dari pemerintah setempat maupun dari perwakilan Indonesia di luar negeri.
Menurutnya, laporan dampak serius terhadap pekerja migran kita juga belum ada. Memang, ada beberapa cerita yang beredar.
“Ada beberapa pekerja migran yang di Kuwait, itu bukan dampak fisik, tetapi psikologis karena trauma,” jelasnya.
Untuk kasus seperti itu, pemerintah tidak tinggal diam. Mereka memberikan pendampingan agar para pekerja yang mengalami tekanan bisa pulih dan kembali beraktivitas normal. Soal persiapan, Kementerian P2MI sudah punya sejumlah langkah antisipasi. Mereka membangun pusat krisis atau crisis center, plus menyediakan hotline khusus bagi yang butuh bantuan.
“Jika ada sesuatu segera kita laporkan ke kita,” tegas Mukhtarudin.
Di sisi lain, perwakilan kita di lapangan seperti KBRI dan KJRI juga aktif memantau. Mereka rajin menyebarkan update situasi terbaru melalui berbagai kanal yang ada. Mukhtarudin menegaskan komitmen pemerintah untuk terus mengawasi dengan ketat.
“Prinsipnya, negara, kami, pemerintah, bersama perwakilan kita, KBRI dan KJRI, akan all out memantau dan mengikuti perkembangan day-to-day, detik-detik eskalasi konflik yang terjadi di Timur Tengah,” paparnya.
Lalu, bagaimana dengan PMI di Iran sendiri? Jumlahnya ternyata tak banyak, hanya sekitar seratus orang. Sebagian besar bekerja sebagai PRT dan berangkat secara mandiri, bukan melalui program resmi penempatan.
“Itu bukan penempatan kami. Itu penempatan secara mandiri karena memang Iran bukan salah satu tujuan negara penempatan,” katanya memberi penjelasan.
Ketegangan kawasan ini memuncak setelah serangan militer AS dan Israel pada akhir Februari lalu, yang dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Balasan Iran pun tak tanggung-tanggung: serangan rudal diluncurkan ke Israel dan sejumlah fasilitas militer AS di beberapa negara Teluk.
Artikel Terkait
Manchester City Kalahkan Arsenal 2-1 dalam Laga Sengit Perebutan Puncak Klasemen
Bayern Munich Balas Gol Cepat Stuttgart dengan Amukan Tiga Gol
Menantu Tewaskan Mertua dengan Golok di Lampung Selatan
Rabiot Pecah Kebuntuan, AC Milan Bungkam Verona 1-0