Peneliti BRIN: Padang Lamun Indonesia Simpan Karbon Setara 14-30% Emisi Nasional

- Kamis, 05 Maret 2026 | 18:30 WIB
Peneliti BRIN: Padang Lamun Indonesia Simpan Karbon Setara 14-30% Emisi Nasional

Indonesia punya harta karun tersembunyi di bawah lautnya. Bukan emas atau permata, tapi padang lamun. Menurut peneliti BRIN, Yusmiana Rahayu, ekosistem ini ternyata punya peran krusial dalam menyimpan karbon, yang bisa jadi senjata penting melawan perubahan iklim.

Dalam sebuah diskusi daring belum lama ini, Yusmiana memaparkan angka yang cukup mencengangkan. Berdasarkan data luas padang lamun pada 2018, yang berkisar antara 875 ribu hingga 1,8 juta hektare, potensi penyimpanan karbonnya diperkirakan mencapai 0,26 hingga 0,55 gigaton karbon dioksida ekuivalen.

"Kemudian totalnya saya gabungkan setelah dikaitkan luas, mendapatkan 0,26 sampai 0,55 gigaton CO2 ekuivalen," ujar Yusmiana, seperti dilansir Antara.

Angka itu bukan main-main. Ia menggambarkan gabungan kemampuan penyimpanan karbon, baik yang ada di biomassa lamun itu sendiri maupun di dalam sedimen tempatnya tumbuh.

Nah, untuk memberi gambaran seberapa signifikan angka tadi, Yusmiana membandingkannya dengan laporan emisi nasional. Total emisi gas rumah kaca Indonesia di 2019 tercatat sekitar 1,84 Gt CO2e.

"Jadi ini untuk memberikan perbandingan seberapa besar potensi karbon di ekosistem lamun yang kita punya dibandingkan dengan emisi yang terjadi di Indonesia," katanya.

Riset yang jadi dasar perhitungan ini sendiri dilakukan pada 2024. Namun begitu, Yusmiana mengakui bahwa besaran angka tersebut mungkin saja berubah. Pasalnya, ada data terbaru yang perlu dipertimbangkan.

Di akhir tahun lalu, Kementerian Kelautan dan Perikanan baru merilis Peta Karang dan Padang Lamun Nasional 2025. Peta itu menetapkan luasan padang lamun nasional sekitar 660 ribu hektare, sementara karang keras sekitar 838 ribu hektare.

Perbedaan angka ini jelas akan mempengaruhi perhitungan potensi karbon ke depannya. Tapi satu hal yang pasti, temuan ini semakin menegaskan bahwa menjaga ekosistem laut kita bukan cuma soal keindahan biota, tapi juga pertaruhan iklim yang serius.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar