Makna kebangsaan akan luntur jika hukum hanya jadi alat penguasa, bukan penegak keadilan.
Tapi pesimisme? Itu bukan pilihan. Jiwa bangsa ini sudah terbukti tangguh. Lihatlah solidaritas yang menguat saat bencana melanda. Perhatikan kepedulian yang tumbuh di tengah krisis. Kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan itu menunjukkan sesuatu: jiwa kebangsaan kita masih hidup. Masih berdenyut.
Di sinilah peran generasi muda jadi krusial. Mereka hidup di arus global yang deras, di mana identitas bisa jadi cair dan kabur. Tantangan terbesarnya bukan kekurangan informasi, justru kebanjiran informasi. Maka, kemampuan memilah nilai jadi kunci. Cinta tanah air harus dimaknai sebagai kesadaran kritis. Bukan menutup mata pada kekurangan, tapi berani mengkritik untuk perbaikan.
Pendidikan memegang peran sentral. Ki Hadjar Dewantara bilang, “Pendidikan harus memerdekakan manusia, lahir dan batin.”
Pendidikan kebangsaan tak boleh berhenti di hafalan teori dan simbol. Ia harus menumbuhkan empati, tanggung jawab moral, dan kesadaran etis. Hanya dari manusia yang merdeka pikirannya dan bermartabat sikapnya, kebangsaan yang kuat bisa lahir.
Pemikiran serupa diungkap Tan Malaka. Baginya, pendidikan harus “mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan.”
Intinya, kebangsaan harus membentuk manusia Indonesia yang utuh. Cerdas pikirannya, kuat karakternya, dan halus perasaannya.
Pada akhirnya, menjadi bangsa Indonesia adalah pilihan moral yang harus diperbarui tiap hari. Ia menuntut keberanian untuk mengedepankan kepentingan bersama. Menuntut kesediaan untuk berdialog, bukan bermusuhan. Fondasinya haruslah kejujuran, keadilan, dan empati.
Bung Karno pernah mengingatkan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya.”
Menghormati itu bukan cuma dengan upacara dan pidato. Tapi dengan menghidupkan nilai perjuangan mereka dalam tindakan nyata sehari-hari, dalam cara kita berbangsa dan bernegara.
Indonesia itu bangsa besar. Bukan cuma karena luas wilayah atau jumlah penduduknya. Tapi karena kekayaan nilai luhur yang diwarisi dari sejarah panjangnya. Tugas kita sekarang bukan menciptakan nilai baru dari nol. Melainkan menjaga, menghidupkan, dan mewujudkan nilai yang sudah ada itu dalam kenyataan. Selama kebangsaan ini dimaknai sebagai panggilan nurani untuk memanusiakan manusia dan mempersatukan perbedaan, selama itu pula Indonesia akan tegak sebagai bangsa yang bermartabat.
Tabik.
Artikel Terkait
Antusiasme Konser Mewah vs Realita 171 Juta Penduduk Miskin
SP3 Eggi-Damai: Instruksi Istana yang Mengabaikan Aturan Hukum
Dari Brimob ke Medan Ukraina: Kisah Rio dan Taruhan Nyawa Sebagai Tentara Bayaran
Khamenei Tuding AS dan Israel Dalang Kerusuhan, Janji Pertanggungjawaban