Syaikh Wahbah al-Zuhaili dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini dengan gamblang. Katanya, pengakuan iman itu tidak bisa cuma lewat kata-kata. Harus ada pembuktiannya. Ujiannya macam-macam; bisa berupa kewajiban seperti hijrah, jihad, atau menahan nafsu. Bisa juga lewat musibah yang menimpa diri atau harta. Tujuannya jelas: untuk memisahkan mana iman yang tulus dan mana yang cuma kedok.
Nah, di sinilah letak ujian sebenarnya bagi seorang mukmin. Godaan duniawi yang kita bahas tadi itulah medan ujiannya. Apakah kita bisa tetap sabar dan teguh, atau malah ikut terseret arus? Iman itu kan bukan sekadar di lisan. Ia harus terwujud dalam sikap batin, komitmen moral, dan keteguhan menjalankan perintah-Nya sambil menahan diri dari segala godaan.
Ujian, baik yang berupa kesenangan maupun kesusahan, pada dasarnya adalah saringan. Lewat ujian itulah akan kelihatan, siapa yang betul-betul bersandar pada Allah dan siapa yang imannya langsung goyah saat dihadapkan pada realita dunia yang keras.
Jadi, perjalanan hidup kita ini sejatinya adalah proses pembuktian iman yang terus berlangsung. Sampai akhirnya kita kembali menghadap-Nya.
Akhir Kata
Kalau direnungkan, Isra Mikraj ini memberi pesan yang sangat kuat. Iman adalah kunci utamanya. Tanpa iman, kita akan kesulitan memahami ayat-ayat Allah dan membaca realitas hidup secara utuh. Sebab, tidak semua kebenaran bisa dijangkau akal dan pengalaman indrawi kita.
Lewat peristiwa agung ini, Allah memperlihatkan hakikat dunia dengan segala tipu dayanya. Juga menegaskan bahwa Islam adalah agama yang selaras dengan fitrah manusia. Dari awal hingga akhir, perjalanan Isra Mikraj seolah menggambarkan perjalanan hidup manusia itu sendiri.
Simbol-simbol yang dilihat Nabi mengajarkan pada kita satu hal: dunia ini adalah medan ujian. Setiap hari kita dihadapkan pada pilihan; taat atau lalai, adil atau zalim.
Karena itu, Isra Mikraj bukan cuma peristiwa sejarah yang diperingati setahun sekali. Ia adalah sumber pelajaran spiritual yang hidup. Pelajaran yang mestinya menuntun kita untuk meneguhkan iman, menjaga pandangan ke akhirat, dan menjalani hidup dengan penuh kesadaran serta tanggung jawab di hadapan Allah. Wallāhu a’lam.
Zuhaili Zulfa, S.Pd., Guru Pendidikan Agama Islam, lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Artikel Terkait
Kubah Masjid: Jejak Akulturasi Islam dan Kearifan Lokal Nusantara
Siap Sambut Imlek 2026, Ini Ucapan Bahasa Inggris yang Tak Biasa untuk Tahun Kuda Api
Dahlan Iskan dan Gelar yang Tak Pernah Diminta
Ketua RT di Karanganyar Luncurkan Ronda Terbang, Pantau Kampung dengan Drone Hasil Tabungan 7 Tahun