“Klo korupsinya peringkat brp min?” tulis seorang warganet.
Ada juga yang berkomentar, “Selamat 10 th Jokowi menjabat. Berhasil memiskinkan rakyat dengan beban utang menggunung.”
“Termiskin No 2 dan Terkorup No 1,” sindir akun lainnya.
Ketimpangan antara elite dan rakyat biasa juga tak luput dari sorotan.
“Indonesia nomor 2 di dunia gaji DPR tertinggi.”
“Penduduknya miskin, kan yang kaya pemerintahannya,” tulis warganet lain.
Niat Prabowo mungkin baik. Pesan moral tentang ketahanan dan budaya bangsa. Tapi dalam situasi ekonomi yang masih terasa berat, dengan isu ketimpangan dan biaya hidup yang tinggi, publik punya tuntutan lain. Narasi kebahagiaan tidak boleh melayang sendiri. Ia harus dibarengi dengan perbaikan yang nyata, yang bisa dirasakan langsung di dompet dan meja makan.
Pada akhirnya, perdebatan ini mengingatkan satu hal. Kebahagiaan nasional mustahil dipisahkan dari keadilan ekonomi. Meminta rakyat bersyukur itu wajar. Tapi negara juga punya tugas besar: memastikan hidup sederhana bukanlah akibat dari kemiskinan struktural yang tak kunjung berujung.
Artikel Terkait
Senator Papua Kritik Lembaga Baru: Papua Butuh Dialog, Bukan Birokrasi
Gema Bangsa Resmi Melangkah, Langsung Dukung Prabowo di 2029
Sutoyo Abadi Soroti Kekeliruan Fatal: Kedaulatan Rakyat Bukan Milik DPR
Bayi Diselimuti Uang, Warganet Soroti Kekhawatiran Kesehatan dan Riya