Medioker: Sebuah Pilihan Berani untuk Berhenti Mengejar
Di sinilah kita perlu memaknai ulang kata 'medioker'. Menjadi medioker bukan berarti kita malas atau berhenti bermimpi. Bukan itu. Medioker adalah kesadaran untuk mengenal batas diri sendiri.
Ini adalah keberanian untuk bilang "cukup" saat dunia di sekeliling terus-terusan meneriakkan kata "lebih". Di tengah ritme 2026 yang serba cepat dan penuh tekanan, memilih untuk jadi medioker justru bisa jadi strategi bertahan hidup yang paling masuk akal.
Dengan ritme yang lebih manusiawi, kita tak lagi menggantungkan seluruh harga diri pada jabatan atau angka di rekening bank. Kegagalan pun tak lagi terasa seperti kiamat kecil, melainkan hanya sebuah jeda dalam perjalanan panjang. Di sinilah konsep slow living menemukan artinya: bukan hidup lambat tanpa tujuan, tapi hidup dengan penuh kesadaran.
Prestasi Sejati: Tetap Waras di Tengah Kekacauan
Di tahun 2026 ini, mungkin prestasi tertinggi bukan lagi gelar 'yang paling sibuk' atau 'paling produktif'. Bisa jadi, pencapaian terbesar justru adalah menjadi orang yang paling tenang di tengah kekacauan. Tetap waras saat dunia gaduh. Tetap utuh ketika standar hidup yang ditetapkan orang lain semakin tak masuk akal.
Jadi, merasa biasa-biasa saja bukanlah tanda kegagalan. Bisa jadi, itu adalah cara paling jujur untuk menjaga diri kita tetap utuh. Di dunia yang mendesak kita untuk selalu tampil luar biasa, memilih untuk tetap tenang dan 'biasa saja' justru membutuhkan keberanian yang luar biasa.
Pada akhirnya, bertahan hidup dengan tenang adalah sebuah seni. Dan seni itu hanya bisa dikuasai oleh mereka yang berani untuk tidak selalu menjadi yang terhebat.
Artikel Terkait
Menu Gratis untuk Balita dan Ibu Hamil Picu KLB Keracunan di Majene
Pungli di Exit Tol Rawa Buaya Sirna, Enam Pak Ogah Dibina Dinsos
Aksi Tak Senonoh di Bus Transjakarta, Pelaku Diamankan ke Polisi
Sudirman Sepi, Warga Jakarta Rebut Trotoar untuk Lari dan Sepeda