Hanya beberapa minggu di tahun 2026, dan rasanya sudah begini. Resolusi yang dulu kita susun dengan semangat membara, kini terasa seperti beban yang mencekik leher. Bangun pagi? Tetap saja susah. Target hidup? Masih berantakan. Kalender yang tadinya penuh warna-warni rencana, kini dipenuhi celah-celah kosong yang cuma bikin kita merasa bersalah.
Di titik ini, kita cenderung menghakimi diri sendiri. Kita merasa kurang disiplin, kurang ambisius, atau mungkin kurang hebat. Padahal, siapa tahu masalahnya bukan pada kita? Bisa jadi, standar dunia di luar sana yang sudah kelewat tinggi dan berisik.
Suara-suara yang Membisiki Kita: Harus Luar Biasa!
Zaman sekarang, jadi orang 'biasa' rasanya seperti sebuah kesalahan. Setiap hari, media sosial membanjiri kita dengan cerita kesuksesan orang lain. Karier mereka melesat, bisnisnya berkembang pesat, produktivitasnya seolah tak ada habisnya. Semuanya tampak sempurna, semua terlihat menang.
Di tengah hiruk-pikuk itu, diam-diam kita bertanya pada diri sendiri: "Kalau hidupku cuma begini-begini saja, apa aku gagal?"
Budaya saat ini seolah memaksa kita untuk selalu tampil maksimal. Harus punya pekerjaan sampingan, harus update dengan teknologi AI terbaru, harus naik level terus. Tanpa sadar, kita terjebak dalam sebuah lomba lari yang tidak pernah ada garis finisnya. Burnout pun tumbuh subur. Bukan karena kita lemah, tapi karena kita dipaksa untuk terus menjadi 'super'.
Mengambil Pelajaran dari Mesin: Kekuatan 70%
Mengejar kesempurnaan tanpa henti adalah resep pasti menuju kelelahan mental. Kita diajari bahwa hidup harus selalu di angka 100. Padahal, secara teknis, manusia tidak dirancang untuk beroperasi di performa puncak setiap saat.
Coba lihat mesin. Kalau dipaksa bekerja di kapasitas 100 persen terus-terusan, dia akan cepat panas dan rusak. Sebaliknya, mesin yang berjalan di sekitar 70 persen tenaganya justru lebih awet, stabil, dan tetap bisa mencapai tujuannya. Prinsip yang sama berlaku untuk kita. Hidup ini bukan soal seberapa cepat kita membakar diri, tapi seberapa jauh kita bisa bertahan tanpa hancur di tengah jalan.
Artikel Terkait
Menu Gratis untuk Balita dan Ibu Hamil Picu KLB Keracunan di Majene
Pungli di Exit Tol Rawa Buaya Sirna, Enam Pak Ogah Dibina Dinsos
Aksi Tak Senonoh di Bus Transjakarta, Pelaku Diamankan ke Polisi
Sudirman Sepi, Warga Jakarta Rebut Trotoar untuk Lari dan Sepeda