Hotel Tjimahi, Saksi Bisu Sejarah Cimahi, Akhirnya Dilepas Pemiliknya

- Kamis, 15 Januari 2026 | 21:06 WIB
Hotel Tjimahi, Saksi Bisu Sejarah Cimahi, Akhirnya Dilepas Pemiliknya

“Saya tidak pernah menandatangani heritage,” katanya.

Alasannya cukup pragmatis. Bukan karena tak mau menjaga sejarah, tapi lebih karena tak ada dukungan nyata dari pihak berwenang.

“Kalau ditetapkan heritage, baik. Tapi pemerintah tidak memberi apa-apa. Tidak ada insentif, tidak ada keringanan pajak. Jadi bagaimana kami bertahan?”

Proses penjualannya sendiri sudah berjalan beberapa tahun, dilakukan secara tertutup lewat jaringan kenalan. Tanpa papan besar atau iklan media.

Harganya pun terus merosot. Dari patokan awal Rp 66 miliar, turun ke Rp 45 miliar, dan kini berkisar di angka Rp 35 miliar. Beberapa peminat sudah muncul, tapi belum ada kesepakatan final.

Thea membuka peluang untuk siapa saja, investor swasta maupun pemerintah.

“Kalau manajemen mau diambil profesional seperti Marriot atau mana pun, saya serahkan,” ucapnya.

Dia bercerita panjang lebar tentang jejak perjuangan dan dinamika masa transisi tahun 60-an yang mewarnai hotel itu. Bagi Thea, menjual Hotel Tjimahi bukan sekadar urusan lepas aset. Ini seperti melepas sebagian dari keluarganya, kisah hidup, dan sejarah yang tak tertulis. Tapi dia juga harus realistis.

“Ini solusi terbaik saat ini,” ujarnya perlahan, penuh pertimbangan.

Bangunan tua itu masih berdiri kokoh di tengah Cimahi. Seolah menunggu keputusan akhir: apakah akan ditumbangkan zaman, atau diselamatkan oleh tangan yang percaya bahwa warisan punya nilai lebih dari sekadar angka di kalkulator bisnis dan surat pajak.

Untuk sekarang, Hotel Tjimahi masih terbuka. Menerima tamu, dan mungkin juga, menawarkan kesempatan terakhir.


Halaman:

Komentar