Hotel Tjimahi, Saksi Bisu Sejarah Cimahi, Akhirnya Dilepas Pemiliknya

- Kamis, 15 Januari 2026 | 21:06 WIB
Hotel Tjimahi, Saksi Bisu Sejarah Cimahi, Akhirnya Dilepas Pemiliknya

Di jantung Kota Cimahi, sebuah bangunan tua bertahan dengan papan namanya yang sederhana: Hotel Tjimahi. Usianya hampir seabad, didirikan pada 1927, dan telah menyaksikan begitu banyak geliat sejarah kota kecil yang dulu merupakan pusat militer kolonial. Jejak para pedagang, tentara, pejabat, hingga tokoh nasional seperti Ani Yudhoyono, semuanya melekat pada dinding-dindingnya.

Namun begitu, hari-hari hotel legendaris ini tampaknya tinggal menghitung hari. Babak akhirnya sudah di depan mata: bangunan klasik itu resmi dijual.

Teresia Soetamanggala, atau yang akrab disapa Thea, adalah pemilik terakhir sekaligus generasi ketiga dari keluarga pendiri hotel.

“Saya generasi ketiga. Dari nenek, warisan jatuh ke ayah saya. Lalu ayah meninggal, ibu dan adik menyusul. Sekarang tinggal saya,” ujarnya suatu hari di pertengahan Januari.

Tak ada lagi penerus di keluarganya. Anak-anaknya telah memilih jalan hidup yang berbeda jauh dari bisnis perhotelan, bahkan dari Indonesia.

“Mereka semua diving. Ada yang jadi instruktur, ada juga yang jadi Kaprodi di UPH,” katanya dengan nada yang menerima.

Alasan penjualannya sebenarnya bukan cuma soal usia bangunan. Tekanan ekonominya yang kian mencekik menjadi pemicu utamanya.

“PBB sekarang sudah Rp 60 juta per tahun,” keluh Thea. “Dengan pengelolaan tradisional seperti ini, tanpa marketing, tanpa iklan, kami sulit bersaing dengan hotel-hotel kekinian.”

Pandemi, tentu saja, menjadi pukulan paling telak. Diskon pajak 10 persen pun terasa tak cukup membantu.

“Waktu pemerintah minta tutup, kita nurut. Tapi PBB tetap harus bayar. Dari mana coba? Itu yang bikin saya menangis.”

Meski sarat sejarah, hotel ini tak berstatus cagar budaya. Thea dengan tegas mengakuinya.


Halaman:

Komentar