Sepanjang Minggu kemarin, ada dua berita utama yang ramai dibicarakan. Pertama, soal penjelasan BEI mengenai fenomena 'saham gorengan' yang kerap bikin resah investor. Lalu, yang kedua, kabar tentang pemerintah AS yang shutdown lagi.
BEI Buka Suara Soal 'Saham Gorengan': Bukan Soal Jenis, Tapi Modusnya
Bursa Efek Indonesia akhirnya angkat bicara. Istilah 'saham gorengan' yang santer beredar, kata mereka, sebenarnya tidak merujuk pada kelompok saham tertentu. Intinya, itu adalah sebutan untuk segala bentuk manipulasi harga di pasar modal.
“Tidak harus saham dari kelompok tertentu. Tetapi seluruh kegiatan yang melakukan manipulasi harga di pasar itu adalah tindak kejahatan pasar modal,” tegas Jeffrey Hendrik, Pejabat Sementara Direktur Utama BEI.
Pernyataan itu disampaikannya di Wisma Danantara, Jakarta, Sabtu (31/1). Meski berkomitmen untuk menyelidiki dan menindak tegas, Jeffrey mengakui sampai saat ini BEI masih mendalami siapa saja pelaku yang berada di balik praktik nakal tersebut.
AS Shutdown Lagi, Tapi Dampaknya Diperkirakan Tak Parah
Di sisi lain, dari seberang lautan, pemerintah Amerika Serikat kembali mengalami penutupan atau shutdown. Ini terjadi Sabtu (31/1) waktu setempat, menyusul mandeknya persetujuan anggaran untuk tahun 2026 di Kongres.
Namun begitu, situasi kali ini diprediksi cuma sementara. Parlemen AS rencananya akan kembali bersidang pada Senin (2/2) setelah jeda sepekan. Kabarnya, Presiden Donald Trump dari Partai Republik mendukung penuh paket anggaran yang sedang digodok itu.
Menurut analisis Bloomberg, dampak shutdown kali ini relatif minimal bagi masyarakat. Banyak pegawai federal yang masuk kategori 'esensial' seperti personel militer dan pengatur lalu lintas udara tetap bekerja seperti biasa di akhir pekan.
Ini adalah shutdown kedua di era kepemimpinan Trump. Sebelumnya, pada periode lalu, pemerintah tutup sampai 43 hari. Waktu itu efeknya lumayan parah: bantuan pangan terhenti, ribuan penerbangan batal, dan gaji pegawai pemerintah telat berbulan-bulan.
Nah, kenapa sekarang lebih ringan? Ternyata, beberapa lembaga kunci sudah dapat anggaran hingga akhir tahun fiskal, September nanti. Ambil contoh Departemen Pertanian. Karena dananya sudah ada, program bantuan pangan atau food stamps tidak akan terganggu. Layanan di taman nasional, untuk veteran, dan operasional Departemen Kehakiman juga tetap berjalan.
Tapi bukan berarti semua aman. Beberapa departemen besar tetap harus ikut prosedur penutupan sementara. Mereka yang terdampak antara lain Keuangan, Pertahanan, Keamanan Dalam Negeri, Transportasi, Kesehatan, serta Ketenagakerjaan. Jadi, meski skalanya lebih terbatas, goncangan tetap ada.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020