Kampus Sibuk Menghitung, Lupa Menimbang Makna

- Kamis, 15 Januari 2026 | 18:50 WIB
Kampus Sibuk Menghitung, Lupa Menimbang Makna

Nah, tradisi pesantren bisa jadi cermin yang menarik. Di sana, kerja selalu dikaitkan dengan niat. Pengabdian dilihat sebagai bagian dari pendidikan karakter, bukan sekadar fungsi organisasi. Ada prinsip "bondo, bahu, pikir, lek perlu sak nyawane pisan" – bahwa bekerja berarti melibatkan diri sepenuhnya, bukan cuma soal hasil, tapi juga kesungguhan dari dalam.

Prinsip ini tentu tak bisa serta-merta dipindahkan ke semua kampus modern. Tapi semangatnya relevan untuk membaca ulang manajemen kinerja kita sekarang. Bahwa sistem tanpa etika cenderung melahirkan kepatuhan yang hampa. Bahwa indikator tanpa niat yang jelas akhirnya jadi rutinitas yang melelahkan.

Ironisnya, dimensi batiniah ini hampir tak tersentuh dalam kebijakan pendidikan tinggi kita. Dokumen-dokumen resmi panjang lebar bicara capaian, tapi sangat jarang menyentuh soal orientasi moral di balik kerja akademik. Padahal, mutu pendidikan tidak cuma ditentukan oleh seberapa banyak yang dihasilkan, tapi juga oleh kesadaran mendalam: untuk apa semua ini?

Sebenarnya, manajemen kinerja bisa dirancang lebih manusiawi. Indikator bisa berfungsi sebagai pengingat tanggung jawab, bukan sekadar target buta. E-kinerja dapat menjadi alat refleksi, bukan alat kontrol yang kaku. Kuncinya ada pada cara kampus memandang warganya: apakah hanya sebagai pelaksana tugas, atau sebagai subjek akademik yang bekerja dengan kesadaran dan nilai.

Perguruan tinggi yang sehat adalah yang mampu menjaga keseimbangan. Antara mutu dan makna. Antara tuntutan akreditasi dan integritas keilmuan. Antara angka-angka yang mentereng dan kebermanfaatan yang nyata bagi sosial. Kalau keseimbangan ini hilang, kampus mungkin tampak hebat di atas kertas, tapi rapuh dalam jangka panjang.

Di tengah siklus evaluasi yang tak putus-putus, tekanan kompetisi global, dan perubahan kebijakan yang kerap datang, momen ini tepat untuk kita berhenti sejenak. Bukan untuk menolak sistem, tapi untuk bertanya ulang tentang arah. Apakah sistem yang kita bangun ini membantu kita menjadi pendidik yang lebih baik, atau justru menjauhkan kita dari hakikat kerja akademik yang sejati?

Menilai kinerja itu penting, ya. Tapi memaknai kerja jauh lebih mendasar. Tanpa makna, kinerja cuma jadi rutinitas yang menguras. Dengan makna, bahkan sistem yang paling ketat sekalipun bisa dijalani dengan ketulusan.

Mungkin, di sela-sela kesibukan mengisi laporan dan mengejar skor, kita perlu kembali pada pertanyaan paling sederhana: untuk siapa sebenarnya ilmu ini dihadirkan? Dan kepada siapa kerja akademik kita ini, pada ujungnya, harus dipertanggungjawabkan? []

Dosen UNIDA Gontor, Ponorogo.


Halaman:

Komentar