Protes Adat Na-Sfa: Mempertahankan Hutan Misyarmase di Sorong Selatan
Komunitas adat Na-Sfa dari Suku Tehit melakukan ritual protes di Hutan Adat Misyarmase, Sorong Selatan. Dengan mengenakan busana tradisional kulit kayu dan hiasan bulu kasuari, mereka menyampaikan kekecewaan terhadap status kawasan hutan negara yang membatasi ruang hidup leluhur mereka.
Hutan Misyarmase menjadi sumber kehidupan bagi Sub Suku Na-Sfa secara turun-temurun. Masyarakat adat ini bergantung pada hutan untuk berburu, meramu, dan berkebun. Setiap bagian hutan menyimpan nilai spiritual dan sejarah kolektif masyarakat.
Kristian Sesa, tetua adat Na-Sfa, menceritakan pengalaman konflik dengan aparat. "Polisi datang dengan mobil patroli saat saya membuka kebun. Mereka menuduh terjadi kebakaran hutan," ujarnya. Sesa menegaskan bahwa api tersebut berasal dari aktivitas berkebun tradisional.
Kaka Abner Bleskadit, Ketua Pemuda Adat Sub Suku Sfa, menjelaskan dampak penetapan hutan negara. "Pembangunan gereja dan sekolah terhambat karena status kawasan hutan," jelasnya. Pembatasan ini menghambat pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Ritual adat di Misyarmase menjadi simbol perlawanan budaya masyarakat Na-Sfa. Upacara tradisional ini memperkuat narasi spiritual antara manusia dan hutan. Masyarakat adat menekankan pentingnya hutan sebagai warisan generasi mendatang.
Konflik muncul dari penetapan hutan konservasi tanpa konsultasi dengan pemilik adat. Masyarakat Na-Sfa menuntut pengakuan hak tradisional atas hutan adat mereka. Mereka meminta negara menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya.
Perjuangan masyarakat adat Na-Sfa terus berlanjut melalui ritual dan tradisi. Pesan mereka jelas: hutan adalah identitas dan kehidupan yang harus diakui. Warisan leluhur ini akan terus dipertahankan untuk generasi masa depan.
Artikel Terkait
Mahfud MD Apresiasi KPK yang Kini Merambah Sektor Pajak dan Bea Cukai
IHSG Turun 0,43%, Analis Soroti Kunci Support di Level 8.170
AKBP Didik Putra Kuncoro Dipecat Tidak Hormat Usai Jadi Tersangka Narkoba
Pemkab Bone Bahas Pembangunan Pelabuhan Senilai Rp1,7 Triliun di Pesisir Timur