Tema besar tahun 2026 itu, kalau direnungkan, ibarat cermin yang bikin kita tidak enak. Kata “profesional” mengingatkan bahwa K3 bukan cuma urusan teknis, tapi juga etika. Profesionalisme diukur dari integritas dan keberanian menjaga standar bukan dari banyaknya sertifikat yang terpajang.
Lalu kata “andal”. Ini soal kepercayaan. Sistem K3 yang andal adalah sistem yang dipercaya oleh semua pihak: pekerja, manajemen, hingga pemerintah. Tapi bagaimana bisa percaya kalau hasil pengujian diragukan, atau data diolah agar terlihat aman? Keandalan runtuh saat kepercayaan hilang. Yang tersisa cuma prosedur yang dijalankan dengan ogah-ogahan.
Sedangkan “kolaboratif” terasa seperti kritik halus. Selama ini pendekatan K3 terlalu satu arah, dari atas ke bawah. Padahal, keselamatan sejati lahir dari dialog dan rasa memiliki bersama. Tanpa keterlibatan aktif pekerja, K3 akan selalu dianggap sebagai beban, bukan kebutuhan.
Tapi kolaborasi bukan berarti kompromi pada standar keselamatan, lho. Justru sebaliknya. Ia menuntut kejelasan peran, akuntabilitas, dan pengawasan yang lebih ketat. Kolaborasi tanpa prinsip hanya akan melahirkan pembiaran yang dilembagakan.
Refleksi ini makin penting melihat dunia kerja yang berubah cepat. Teknologi baru, tekanan efisiensi, dan risiko yang makin kompleks menuntut sistem K3 yang lincah. Kalau kita masih bertumpu pada pendekatan lama yang reaktif dan administratif, ya kita akan selalu tertinggal.
Persoalan data juga bikin runyam. Banyak kecelakaan dan penyakit kerja yang tak tercatat dengan baik. Bukan karena tidak terjadi, tapi karena sistem belum membangun ruang yang aman untuk pelaporan yang jujur. Akibatnya, kebijakan kita dibangun di atas data yang cacat. Kita merasa sudah aman, padahal kita sesungguhnya buta.
Berhenti Merasa Cukup
Mungkin, Bulan K3 Nasional harusnya jadi momentum untuk merasa tidak nyaman. Tidak nyaman mengakui bahwa jarak antara dokumen dan realita masih menganga lebar. Tidak nyaman menyadari bahwa keselamatan tidak bisa tumbuh dari formalitas belaka.
Kalau ekosistem K3 cuma dipoles agar rapi di atas kertas, tema sebesar apa pun akan tetap jadi slogan kosong. Tapi, jika ketidaknyamanan ini diikuti aksi nyata memperkuat etika, membuka ruang bagi suara pekerja, membangun sistem data yang transparan maka K3 bisa kembali ke tujuan utamanya.
Pada ujungnya, tolok ukur keberhasilan K3 bukan seberapa patuh kita pada aturan. Tapi seberapa jauh kita rela berupaya melindungi nyawa manusia. Jika pekerja masih pulang dengan risiko yang sama seperti kemarin, maka sudah waktunya kita berhenti puas dengan kepatuhan formal. Saatnya menuntut perlindungan yang sesungguhnya.
Artikel Terkait
Sholat Rajin, Tapi Korupsi Jalan: Ustadz Hilmi Soroti Kualitas Ibadah Pejabat
TNI dan Terorisme: Mengapa Satuan Khusus Siap Jadi Tameng Terakhir?
Pratikno: Data Akurat Jadi Kunci Penanganan Pascabencana Sumatera
Pemerintah Siapkan Beasiswa Penuh untuk Perluasan Fakultas Kedokteran