Bulan K3 Nasional: Antara Seremoni dan Nyawa yang Terabaikan

- Kamis, 15 Januari 2026 | 13:06 WIB
Bulan K3 Nasional: Antara Seremoni dan Nyawa yang Terabaikan

Dari Januari hingga Februari, kita disuguhi pemandangan yang itu-itu lagi: Bulan K3 Nasional. Spanduk berwarna-warni dipasang di mana-mana, apel besar digelar, komitmen dibacakan dengan khidmat, dan serangkaian seminar pun digelar. Semua berjalan sesuai rencana, tertib, dan formal. Tapi coba lihat berita di koran atau media daring. Hampir setiap hari ada saja laporan kecelakaan kerja. Pekerja jatuh, terpapar bahan kimia, atau terjebak kebakaran. Ada juga penyakit akibat kerja yang baru ketahuan setelah parah. Di tengah gap yang menyolok ini, Bulan K3 selalu memantik pertanyaan yang sama: ini kemajuan atau cuma rutinitas tahunan belaka?

Tahun 2026 mengusung tema yang ambisius: “membangun ekosistem pengelolaan K3 nasional yang profesional, andal, dan kolaboratif”. Dengungnya besar, terdengar menjanjikan. Tapi kalau jujur, tema itu justru terasa seperti teguran. Ia mengisyaratkan dengan keras bahwa ada yang belum beres. Kalau sistem K3 kita sudah benar-benar profesional dan andal, buat apa kita terus mengulang-ulang jargon yang sama setiap tahun?

Refleksi seharusnya bukan soal mengulang slogan. Ia harus dimulai dari keberanian mengakui jurang lebar antara kepatuhan di atas kertas dan perlindungan nyata di lapangan.

Rutinitas yang Terlalu Nyaman

Dalam keseharian, K3 seringnya hidup nyaman di balik tumpukan berkas. Dokumen lengkap, laporan rapi, sertifikat tertempel rapi di dinding. Banyak perusahaan merasa sudah “aman” dan memenuhi kewajiban begitu semua persyaratan formal itu terpenuhi. Sayangnya, rasa aman administratif ini jarang sekali sejalan dengan perasaan aman para pekerja yang sehari-hari berhadapan dengan mesin, ketinggian, atau bahan kimia.

Inti masalahnya begini: K3 sering dijalankan sebagai bentuk kepatuhan pada hukum, bukan sebagai kebutuhan moral. Ia ada untuk menjawab audit, bukan untuk menjawab risiko nyata. Begitu K3 berhenti cuma di urusan dokumen, ia berubah jadi angka statistik bukan pengalaman perlindungan yang dirasakan manusia.

Rutinitas tahunan Bulan K3 justru memperkuat ilusi ini. Upacara dan seremoni sering menggantikan evaluasi yang jujur dan mendalam. Kita sibuk memastikan acara berjalan lancar, alih-alih memastikan dampaknya sampai ke lapangan. Akibatnya, K3 gampang banget direduksi jadi simbol belaka. Ia sekadar bukti kepatuhan, bukan sistem hidup yang terus belajar dan beradaptasi.

Praktiknya pun jadi transaksional. Pengujian lingkungan kerja dilakukan biar lulus regulasi. Pemeriksaan alat cuma supaya operasional tidak terganggu. Sertifikasi kompetensi sekadar formalitas, bukan jaminan keahlian. Semua terlihat berjalan, tapi sebenarnya penuh dengan celah. Dan yang paling dirugikan? Pekerja itu sendiri.

Mereka yang berada di garis depan, menghadapi bahaya langsung, justru sering tak punya suara dalam pengambilan keputusan K3. Ketika pekerja cuma dianggap objek, ya perlindungan akan selalu kalah oleh formalitas.

Cermin yang Tidak Nyaman


Halaman:

Komentar