Boeing Kembali Pimpin Pesanan Pesawat, Akhiri Dominasi Airbus 7 Tahun

- Rabu, 14 Januari 2026 | 11:15 WIB
Boeing Kembali Pimpin Pesanan Pesawat, Akhiri Dominasi Airbus 7 Tahun

Boeing akhirnya bisa bernapas lega. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir, raksasa aviasi Amerika Serikat itu berhasil mengumpulkan pesanan lebih banyak daripada rival abadinya, Airbus. Sepanjang 2025, Boeing meraup pesanan untuk 1.200 pesawat komersial.

Angka itu tentu saja impresif. Menurut laporan AFP, Rabu (14/1/2026), Boeing mencatat 175 pesanan di bulan Desember saja. Akumulasinya mencapai 1.173 unit sepanjang tahun. Di sisi lain, Airbus dari Eropa 'hanya' mencatat 889 pesanan di periode yang sama. Ini jadi kemenangan pertama Boeing sejak 2018.

Namun begitu, ceritanya agak berbeda soal pengiriman. Boeing mengaku telah mengirimkan 600 pesawat sepanjang 2025, dengan 63 unit di antaranya terjadi di bulan penutup tahun, Desember. Meski angka pengiriman itu yang tertinggi bagi Boeing sejak 2018, mereka masih ketinggalan jauh dari Airbus yang berhasil mengirimkan 793 unit ke berbagai maskapai.

Dominasi Airbus dalam hal pengiriman pesawat selama beberapa tahun belakangan memang tak terbantahkan. Posisi itu menguat setelah dua insiden tragis yang menimpa Boeing 737 MAX pada 2018 dan 2019. Dua kecelakaan itu sempat membuat kepercayaan dunia penerbangan terhadap Boeing goyah.

"Tim kami telah melakukan pekerjaan hebat sepanjang 2025," ujar Stephanie Pope, Kepala Pesawat Komersial Boeing.

"Mereka berupaya meningkatkan pengiriman pesawat yang aman dan berkualitas kepada pelanggan kami secara tepat waktu. Semua untuk mendukung rencana pertumbuhan dan modernisasi mereka," tambahnya.

Pope juga menegaskan komitmen perbaikan berkelanjutan. "Kami fokus untuk menjadi lebih baik setiap hari dan membangun momentum di tahun mendatang," katanya.

Pernyataan itu seperti sebuah janji. Sekaligus pengakuan bahwa jalan untuk pulih sepenuhnya masih panjang. Tapi setidaknya, dengan jumlah pesanan yang melampaui Airbus, Boeing sudah mengambil langkah pertama yang cukup signifikan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar