Mantan Kepala BSSN Ingatkan Warga: Siapkan Panic Kit untuk Bertahan 7 Hari

- Rabu, 14 Januari 2026 | 13:25 WIB
Mantan Kepala BSSN Ingatkan Warga: Siapkan Panic Kit untuk Bertahan 7 Hari

Pernyataan Komjen Pol (Purn) Dharma Pongrekun belakangan ini ramai diperbincangkan. Mantan Kepala BSSN itu secara terbuka mengingatkan kita semua untuk bersiap. Siap menghadapi apa? Kemungkinan kondisi darurat yang bisa datang tiba-tiba.

Pesan utamanya sederhana, tapi penting: siapkanlah ‘panic kit’ di rumah. Perlengkapan darurat itu, katanya, harus bisa menopang hidup keluarga selama tujuh hari penuh.

“Ini bukan untuk bikin panik,” begitu kira-kira penekanannya. Menurut sejumlah saksi yang mendengar langsung, imbauan ini lebih pada langkah antisipasi belaka. Hidup di tengah ketidakpastian, kata Dharma, menuntut kewaspadaan. Gangguan keamanan, bencana alam, atau krisis lain yang mengancam stabilitas semuanya bisa terjadi tanpa pemberitahuan.

Ia menekankan, kesiapsiagaan masyarakat adalah tulang punggung ketahanan nasional. Artinya, warga harus punya kesadaran untuk mandiri, setidaknya di fase-fase awal sebuah krisis. Saat bantuan resmi mungkin belum merata menjangkau.

“Tujuh hari pertama itu fase paling genting,” ujarnya. Pada momen itulah kita dituntut bertahan dengan apa yang ada.

Lalu, ‘Panic Kit’ Itu Seperti Apa?

Intinya, ini adalah tas atau wadah berisi kebutuhan dasar untuk situasi genting. Simpan di tempat yang mudah dijangkau. Isinya? Cukup yang praktis-praktis saja.

Misalnya, stok makanan dan air minum yang tahan lama. Jangan lupa obat-obatan pribadi dan perlengkapan P3K dasar. Senter plus baterai cadangan wajib ada. Salinan dokumen penting seperti KTP dan akta juga perlu. Dan yang sering terlupa: alat komunikasi plus power bank.

Dengan persiapan sederhana ini, setidaknya kebutuhan pokok masih terjamin saat keadaan benar-benar darurat.

Kenapa Harus Tujuh Hari?

Dalam banyak skenario penanganan bencana, satu minggu pertama sering jadi masa kritis. Masa transisi. Layanan publik mungkin terhenti, distribusi logistik kacau, sementara bantuan masih dalam koordinasi. Nah, di rentang waktu itulah ketahanan individu dan keluarga diuji.

Gagasan ini sebenarnya bukan hal baru. Banyak negara sudah lama menerapkan konsep mitigasi serupa. Hanya saja, di kita, ini masih sering dianggap berlebihan.

Respon masyarakat pun beragam. Sebagian melihat ini sebagai langkah bijak dan proaktif. Membangun kemandirian itu perlu. Tapi di sisi lain, ada juga yang khawatir. Jangan-jangan pernyataan ini malah ditafsirkan sebagai ramalan buruk, seolah krisis besar sudah di depan mata.

Para pengamat mencoba meluruskan. Pesan intinya adalah kesiapsiagaan, bukan ramalan kiamat. Ini soal edukasi kebencanaan yang harusnya jadi budaya.

Memang, dalam menghadapi risiko, peran pemerintah dan masyarakat harus seiring. Pemerintah punya tugas menyiapkan sistem, sementara warga diharap punya kesadaran dasar. Kolaborasi ini yang bisa meminimalkan kepanikan dan dampak buruk suatu krisis.

Jadi, imbauannya jelas: tetap tenang. Jangan mudah terpancing info yang sumbernya tidak jelas. Menyiapkan ‘panic kit’ itu bukan berarti kita yakin bakal terjadi malapetaka. Ini lebih pada kewaspadaan yang rasional. Sebuah investasi kecil untuk keselamatan kita sendiri di masa datang.

Kesiapan hari ini, bisa jadi penyelamat besok.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar