Di tengah situasi darurat bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, respons cepat datang dari infrastruktur gizi yang sudah ada. Badan Gizi Nasional (BGN) mengalihfungsikan ratusan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk jadi ujung tombak penanganan korban. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 286 unit dikerahkan.
Menurut Kepala BGN, Dadan Hindayana, langkah ini langsung diambil sejak hari pertama bencana. “Alhamdulillah dalam menghadapi bencana di Aceh, di Sumatera Utara dan Sumatera Barat, SPPG yang ada di sana yang tidak terkena dampak ikut melayani,” ujarnya dalam sebuah rapat di Jakarta, Senin lalu.
Dia membeberkan rinciannya. Aceh didukung 55 SPPG, Sumatera Utara 173, dan Sumatera Barat 66 unit. Fasilitas-fasilitas inilah yang kemudian jadi penopang bagi ratusan ribu pengungsi.
“Jadi di hari pertama terjadi bencana, infrastruktur yang paling siap SPPG. Dan di sana kan ada juru masak, ada peralatan, ada pengantaran, dan juga tentu saja ada rantai pasok yang sudah tersedia,” jelas Dadan.
Dampaknya nyata. Dari total 286 SPPG itu, layanan makanan darurat telah menjangkau sekitar 600 ribu pengungsi di ketiga provinsi yang porak-poranda itu. Cukup signifikan.
Alih fungsi ini ternyata dapat angin segar dari legislatif. Dadan mengungkapkan bahwa dukungan kuat datang dari Komisi VIII DPR RI. Rupanya, ada komunikasi intens yang mendahuluinya.
“Memang anggota Komisi VIII DPR sudah komunikasi dengan saya, beliau menyarankan agar SPPG bisa dialihfungsikan menjadi tanggap darurat bencana, dan kami kirimkan berita bahwa kami sudah melaksanakan. Jadi didukung kuat oleh Komisi VIII,” tegasnya.
Bagi Dadan, ini lebih dari sekadar soal logistik. Kehadiran SPPG di lokasi bencana adalah simbol. Bukti bahwa negara hadir ketika rakyatnya paling membutuhkan. Apalagi, momentumnya pas.
“Pada saat bencana, pemerintah kan wajib hadir di manapun ada (bencana). BGN melalui SPPG adalah unsur dan organ pemerintah terdepan,” katanya.
“Dan ketika bencana kan sekolah juga diliburkan, sehingga kami bisa dialihfungsikan menjadi dapur umum yang melayani seluruh pengungsian.”
Jadi, fasilitas yang biasanya beroperasi untuk memenuhi gizi anak sekolah itu, dalam sekejap berubah jadi dapur umum yang menyala 24 jam. Sebuah adaptasi yang terpaksa dilakukan, tapi justru jadi solusi tepat di tengah kepanikan.
Artikel Terkait
Sekjen ESDM Pastikan Stok Batu Bara Aman, Pasokan Listrik Terjamin
KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Dirut PT Maktour Fuad Hasan Masyhur yang Masih di Arab Saudi
3.099 Personel Gabungan Dikerahkan Amankan Aksi Mahasiswa di Tiga Titik Jakarta Pusat
Polri Bekuk Buronan Interpol Asal Australia yang Diduga Pengendali Kartel Narkoba Internasional di Bandara Ngurah Rai