Iran Balas Serangan, Rudal dan Drone Hantam Israel dan Pangkalan AS di Timur Tengah

- Sabtu, 28 Februari 2026 | 18:40 WIB
Iran Balas Serangan, Rudal dan Drone Hantam Israel dan Pangkalan AS di Timur Tengah

Sirine peringatan meraung di seantero Israel. Warga bergegas mencari perlindungan, menyusul peringatan militer bahwa serangan udara sedang terjadi. Aksi ini tak lain adalah balasan Iran, yang dilancarkan setelah negara mereka diserang oleh Amerika Serikat dan Israel.

Menurut sejumlah saksi, ledakan terdengar di langit Tel Aviv. Meski begitu, dampak pastinya masih belum jelas. Yang pasti, Angkatan Udara Israel mengaku sedang berusaha mencegat ancaman yang datang. "Saat ini, Angkatan Udara Israel tengah mencegat dan menyerang ancaman bila diperlukan untuk menghentikan serangan tersebut," begitu bunyi pernyataan resmi mereka.

Pernyataan itu juga mengakui satu hal: pertahanan udara Israel tidak sepenuhnya kedap. Karena itulah, pemerintah meminta warganya untuk patuh pada setiap instruksi keselamatan. Situasinya benar-benar genting.

Gelombang serangan ini sebenarnya adalah babak lanjutan dari ketegangan yang sudah memanas. Sebelumnya, Iran sudah melancarkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah. Sasaran mereka cukup luas, mulai dari Arab Saudi hingga Qatar.

Markas Armada Kelima AS di Bahrain ikut dihantam. Kabarnya, serangan itu menewaskan dan melukai sejumlah tentara Amerika. Tak berhenti di situ, pangkalan udara Prince Sultan di Arab Saudi juga jadi target. Riyadh pun geram, mengecam keras aksi Tehran dan memperingatkan adanya konsekuensi serius atas pelanggaran hukum internasional.

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) bersikap sangat ofensif. Pasukan elit ini menegaskan bahwa operasi militer mereka akan terus berlanjut.

"Operasi ini akan terus berlanjut tanpa henti hingga musuh-musuh berhasil dikalahkan," tegas IRGC dalam pernyataannya.

Mereka bahkan mengklaim rudal-rudalnya telah mengenai aset militer AS dan Israel. Ancaman seperti ini jelas mengganggu eksistensi militer Amerika di kawasan, yang saat ini masih menempatkan puluhan ribu personelnya di berbagai negara Timur Tengah.

Ketegangan makin meruncing. Dan untuk sekarang, warga Israel masih harus bersiap, menunggu di dalam shelter, sambil berharap situasi segera mereda.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar