Ustadz Hilmi Firdausi mengajak kita merenung. Apakah rajin sholat lantas menjamin seseorang jadi profesional, punya integritas, dan anti korupsi? Jawabannya, kata beliau, belum tentu.
Soalnya, sholat itu ada kualitasnya. Kalau cuma sekadar rutin, asal menggugurkan kewajiban, ya hasilnya beda. Sholat yang asal-asalan, menurut penjelasannya, takkan sanggup mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar.
Beliau lalu mengutip surat Al Ma'un. Di sana ada ancaman, "Fawailul lil mushollin" – celakalah orang-orang yang sholat. Menurut tafsir Ibnu Abbas yang disebutkan Ustadz Hilmi, itu merujuk pada orang munafik. Mereka sholat, tapi cuma untuk pamer di depan orang.
Nah, bayangkan kalau pemimpin atau pejabat kita sholatnya seperti itu. Gak heran, kan, kalau dia kemudian semaunya sendiri dalam menjalankan amanah? Ibaratnya, fondasinya sudah rapuh.
Istilah STMJ – Sholat Terus Maksiat Jalan – mungkin pernah kita dengar. Itulah gambaran nyata yang terjadi. Orang rajin sholat, tapi hidupnya jauh dari spirit ibadah itu sendiri. Sholatnya ada, tapi pengaruhnya nihil dalam mengendalikan perilaku.
Lantas, apa jawaban atas pertanyaan apakah pemimpin muslim wajib rajin sholat?
"Jelas wajib," tegas Ustadz Hilmi.
Tapi syaratnya, sholatnya harus yang benar dan khusyuk. Bukan yang sekadar gerakan dan bacaan. Sholat yang mampu menjadi penahan, pengingat, dan pengendali dari segala niat buruk dan perbuatan tercela. Bukan yang asal-asalan.
Wallāhu a‘lamu bis-shawāb.
Artikel Terkait
Sidang Pailit PSM Ditunda, Manajemen Klub Absen di Pengadilan Niaga Makassar
BMKG Prediksi Cuaca Cerah Berawan di Makassar Sepanjang 18 April 2026
Diskominfo Tebing Tinggi Digeledah Polda Sumut Usai OTT Pejabat
Masyarakat Sipil Temui KWI, Soroti Krisis Moral dan Hukum dalam Tata Kelola Negara