Ugara Mati, Suara Rakyat Dikepung: Pemilu Panjang Umur Museveni

- Kamis, 15 Januari 2026 | 11:54 WIB
Ugara Mati, Suara Rakyat Dikepung: Pemilu Panjang Umur Museveni

Udara di Uganda terasa tebal Kamis kemarin. Di hari pemilihan umum itu, jaringan internet tiba-tiba mati total. Keheningan digital ini dibarengi dengan pengetatan aparat keamanan di berbagai titik, sebuah kombinasi yang bikin banyak pihak was-was. Kekhawatiran akan ketegangan politik yang meledak pun tak terhindarkan.

Di tengah situasi itu, Yoweri Museveni diprediksi akan kembali memenangkan kontestasi. Jika benar, ini akan memperpanjang masa pemerintahannya yang sudah nyaris menginjak empat puluh tahun.

Pemerintah punya alasan sendiri untuk memadamkan internet. Mereka bilang ini demi mencegah disinformasi dan hasutan kekerasan yang bisa menyebar cepat. Tapi, langkah ini langsung disambut gelombang kritik. Bahkan PBB angkat bicara, menyebut tindakan itu "sangat mengkhawatirkan".

Museveni yang kini berusia 81 tahun, kali ini menghadapi lawan yang tak bisa dianggap remeh: Bobi Wine. Mantan musisi yang jadi politisi itu punya basis massa yang kuat, terutama di kawasan-kawasan miskin ibu kota Kampala. Wine sendiri sudah sejak lama menuding pemilu ini tak akan adil dan sarat dengan intimidasi.

“Kami sadar betul mereka merencanakan kecurangan, kekerasan, bahkan pembunuhan, dan mereka tidak ingin dunia melihatnya,”

Begitu kata Bobi Wine kepada AFP. Situasinya memang mencekam. Ratusan pendukungnya dilaporkan ditangkap mendekati hari pemilu. Wine sendiri sampai harus mengenakan rompi antipeluru saat berkampanye. Ia menyebut pertarungan politik ini bagai sebuah "perang", dan menjuluki Museveni sebagai "diktator militer".

Museveni tak kalah garang. Dalam kampanye penutupannya, ia bersuara lantang mendorong warga untuk tetap memilih, sambil menyelipkan ancaman.

“Pergi dan pilihlah. Siapa pun yang ingin mengganggu kebebasan kalian, akan saya hancurkan,”

Ancaman itu sepertinya bukan omong kosong. Laporan dari kelompok HAM dan organisasi pers menguak banyak hal. Jurnalis dikatakan mengalami intimidasi, ruang gerak pemantau pemilu dibatasi. Human Rights Watch menilai oposisi menghadapi "represi brutal". Sementara Reporters Without Borders mencatat ada kekerasan yang menimpa jurnalis lokal saat meliput kampanye.

Pada akhirnya, pemilu ini cuma mengukuhkan lagi dilema lama Uganda. Di satu sisi, ada stabilitas yang ditawarkan pemimpin yang sudah berpuluh tahun berkuasa. Di sisi lain, tuntutan perubahan kian keras, berseliweran dengan tuduhan pembatasan demokrasi yang makin menjadi-jadi. Sebuah pilihan yang, sekali lagi, digantungkan pada suara rakyat di tengah situasi yang jauh dari normal.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar