Di sinilah dramanya makin nikmat. Semua terasa genting, tapi klimaksnya belum kelihatan. Dua penggugat, Top Taufan Hakim dan Bangun Sutoto keduanya alumni UGM mengemas gugatan ini sebagai Citizen Lawsuit. Negara pun jadi seperti orang tua yang dipanggil guru BK karena anaknya ribut di kelas.
Di sisi lain panggung, tim kuasa hukum Jokowi bermain dengan nada yang berbeda. Lebih dingin dan prosedural.
YB Irpan dengan nada resmi menjelaskan, ijazah asli belum bisa dihadirkan karena masih disita Polda Metro Jaya. Mereka sudah minta izin pinjam, tapi belum turun. Ijazah itu seperti pusaka sakti yang butuh restu birokrasi dulu sebelum muncul.
Akibatnya, di sidang cuma bisa ditunjukkan salinan dan berkas laporan polisi. Sebuah anti-klimaks yang bikin penonton mendesah.
Mereka juga menepis sebagian gugatan penggugat yang jumlahnya sampai 12 poin termasuk tuntutan agar Jokowi menanggung kerugian negara terkait utang luar negeri. Bagi tim hukum, ini sudah melenceng jauh. Ibaratnya, membahas resep rendang di tengah sidang tilang.
Posisi mereka tetap: Jokowi punya ijazah sah dari UGM. Gugatan CLS ini dinilai lebih beraroma politik ketimbang hukum murni.
Hasil sidang tanggal 13 itu? Ya, sesuai tradisi sinetron panjang: belum ada putusan. Agenda selanjutnya cuma pemeriksaan saksi fakta, penyerahan bukti, dan pencatatan kejanggalan. Ijazah asli tetap absen. Sidang ditunda sampai pekan depan, sekitar minggu ketiga Januari.
Dengan kata lain, episode berikutnya sudah diiklankan. Tapi teasernya sengaja dibuat kabur.
Jadi drama ini terus hidup. Berdenyut di antara hukum dan politik, fakta dan persepsi. Semua pihak bersumpah masih di jalur hukum. Semua data belum berubah. Semua keputusan belum lahir.
Yang berubah cuma satu: kesabaran publik. Yang makin hari makin diuji, sambil bertanya-tanya. Kapan ya ijazah itu benar-benar muncul ke panggung? Atau jangan-jangan ia cuma akan jadi properti legendaris. Selalu disebut, tapi tak pernah benar-benar ditampilkan.
“Kapan berakhir sih sinetron ijazah ini, Bang?”
“Kalau berakhir, sepi Indonesia, wak. Nikmati saja sinetronnya sambil seruput kopi!”
(Ketua Satupena Kalbar)
Artikel Terkait
Klaim Trump Soal Eksekusi di Iran: Benarkah Situasi Sudah Tenang?
Wacana Penghapusan Pilkada Langsung: Demokrasi yang Dikubur Perlahan
Trump Ancang-ancang, Greenland Tegas Tolak Aneksasi AS
Gibran dan Ribka Turun Langsung, Tinjau Pembangunan dari Biak hingga Wamena