Dompet Semakin Tipis, Kesejahteraan Rakyat Tergerus Diam-Diam

- Kamis, 15 Januari 2026 | 06:50 WIB
Dompet Semakin Tipis, Kesejahteraan Rakyat Tergerus Diam-Diam

Stabilitas makro itu bagus, tapi belum tentu menjamin kesejahteraan mikro. Kenaikan harga beras beberapa persen, dampaknya beda jauh buat pejabat dan buruh harian. Subsidi dikurangi dengan alasan efisiensi, yang pertama kali limbung ya keluarga-keluarga pas-pasan.

Negara seperti terlalu yakin pada teori tetesan ke bawah. Pertumbuhan ada, tapi tidak inklusif. Kue ekonomi membesar, cuma potongannya tidak merata. Yang dapat porsi besar ya yang sudah punya.

Bansos memang ada. Program perlindungan sosial juga jalan. Tapi banyak yang merasa kehadiran negara cuma di atas kertas. Bantuan sifatnya sementara, sementara masalah pokok upah rendah, hidup mahal, kerja layak yang susah tetap menggantung.

Belum lagi, kebijakan kerap terasa elitis. Dirancang dari meja kerja yang dingin, dengan logika teknokrat, jauh dari realita di lapangan. Padahal rakyat tidak minta yang muluk-muluk. Cuma ingin hidup layak, bisa menyisihkan uang sedikit, dan punya harapan bahwa besok akan lebih baik.

Yang berbahaya dari semua ini justru kesunyiannya. Tidak ada kerusuhan besar atau antrian panjang seperti ’98. Yang ada adalah kelelahan yang dalam. Orang tetap kerja, tetap tersenyum, tapi di dalam hati, cemas memikirkan masa depan.

Dan ketika kesejahteraan terkikis diam-diam, demokrasi pun ikut melemah. Rakyat yang sibuk berjuang untuk makan hari ini, kehilangan tenaga untuk terlibat dalam urusan publik. Ketimpangan ekonomi lama-lama bisa berubah jadi ketimpangan politik.

Sudah waktunya kebijakan ekonomi ditinjau ulang. Pertumbuhan harus dibarengi pemerataan yang nyata. Mengawasi kekayaan elite bukan cuma soal moral, tapi prasyarat untuk membangun kepercayaan. Negara harus memberi contoh, bukan cuma memberi perintah.

Intinya, pembangunan harus kembali ke manusia. Bukan angka. Upah yang layak, harga pangan yang terjangkau, jaminan sosial yang kuat itulah fondasi kesejahteraan yang sebenarnya.

Dompet rakyat itu indikatornya. Selama ia makin tipis dan tabungan menguap, klaim bahwa “ekonomi baik-baik saja” patut diragukan.

Kesejahteraan bukan kemewahan. Ia hak dasar. Jika tidak segera dibenahi, yang terkikis bukan cuma kemampuan bertahan hidup rakyat, tapi juga kepercayaan mereka pada negara.

Dan kalau kepercayaan itu runtuh, ongkos yang harus dibayar bangsa ini akan jauh lebih mahal daripada angka-angka di laporan manapun.


Halaman:

Komentar