Laporan terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) memotret ekonomi Indonesia dengan nada optimis. Di tengah berbagai tekanan dari luar negeri, perekonomian kita dinilai tetap tumbuh kuat. Inflasi yang terkendali dan sektor keuangan yang tangguh jadi pilar utamanya.
Semua ini tentu bukan datang tiba-tiba. Menurut IMF, capaian tersebut lahir dari kerangka kebijakan yang solid dan stabilitas makroekonomi yang terjaga dengan baik. Komitmen pada pertumbuhan inklusif dan pembangunan berkelanjutan juga mendapat sorotan. Intinya, fondasinya dianggap kuat.
Nah, apa saja yang diapresiasi IMF? Poin pertama jelas soal inflasi. Mereka mencatat keberhasilan otoritas menjaga angka inflasi dalam batas sasaran. Tak hanya itu, IMF juga melihat ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter hingga 2025 guna mendorong pertumbuhan lebih lanjut.
Kedua, ada kemajuan dalam pendalaman pasar keuangan. Ini penting karena membuat transmisi kebijakan moneter jadi lebih efektif. Ketiga, ketahanan sektor keuangan dinilai tetap terjaga, berkat penguatan regulasi dan pengawasan yang terus dilakukan.
Di sisi lain, kebijakan fiskal yang berhati-hati juga dapat pujian. IMF menyoroti komitmen pemerintah yang didukung aturan fiskal yang kredibel. Dan yang tak kalah penting, agenda reformasi struktural menuju visi Indonesia Emas 2045.
Bank Indonesia sendiri menyambut hangat laporan ini. Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, mengonfirmasi hal tersebut.
"Bank Indonesia menyambut baik hasil asesmen IMF atas perekonomian Indonesia tersebut sebagaimana tercantum dalam laporan Article IV Consultation 2025," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (22/1/2026).
Angka proyeksinya cukup menggembirakan. IMF memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh solid di angka 5,0 persen pada 2025, lalu naik sedikit menjadi 5,1 persen di tahun berikutnya. Proyeksi ini sejalan dengan asesmen internal BI.
Namun begitu, bukan berarti tanpa awan. IMF tetap mengingatkan sejumlah risiko global yang mesti diwaspadai. Mulai dari ketegangan perdagangan, dinamika ekonomi dunia yang tak pasti, sampai gejolak di pasar keuangan global. Semuanya bisa jadi tantangan.
Oleh karena itu, sejumlah rekomendasi diajukan. IMF menyarankan kebijakan moneter dan nilai tukar yang benar-benar berbasis data. Normalisasi kebijakan makroprudensial yang longgar juga perlu dilakukan bertahap. Dan yang krusial: reformasi struktural harus dipercepat untuk memperkuat tata kelola dan iklim investasi.
Menanggapi hal ini, BI menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi.
"Bank Indonesia bersama pemerintah dan otoritas terkait akan terus memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter, menjaga stabilitas makroekonomi dan sektor keuangan, serta mempercepat reformasi struktural strategis," kata Ramdan Denny menutup pernyataannya.
Jadi, pesannya jelas. Optimisme ada, tapi kewaspadaan dan kerja keras untuk memperkuat fondasi ekonomi harus terus berjalan.
Artikel Terkait
Jenazah Praka Rico, Personel UNIFIL yang Gugur di Lebanon, Segera Dipulangkan ke Indonesia
Jemaah Haji Indonesia Bawa Bekal Lauk Favorit Demi Jaga Selera Makan di Tanah Suci
Kemenhaj Peringatkan Modus Haji Tanpa Antre, 13 WNI Dicegah Berangkat
Pemerintah Peringatkan Bahaya Tawaran Haji Tanpa Antre, Satgas Khusus Dibentuk