Membayangkan masa depan energi Indonesia yang lebih bersih ternyata butuh biaya yang tak main-main. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian membeberkan angka fantastis: sekitar Rp3.000 triliun. Dana sebesar itu dinilai krusial untuk mewujudkan target transisi energi yang sudah dicanangkan negara.
Target pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) sendiri sebenarnya sudah jelas peta jalannya. Semua tercatat rapi dalam dokumen-dokumen perencanaan nasional, mulai dari Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) hingga Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Farah Heliantina, Asisten Deputi Bidang Percepatan Transisi Energi, mencoba menjelaskan situasi ini. Menurutnya, kerangka regulasi dan payung hukum untuk transisi energi sebenarnya sudah cukup lengkap. Tantangannya kini ada pada eksekusi di lapangan.
RUPTL menargetkan pembangunan pembangkit listrik EBT dengan kapasitas sekitar 69,5 gigawatt. Nah, untuk mencapai angka sebesar itulah investasi ribuan triliun rupiah tadi dibutuhkan. Memang bukan angka yang kecil.
Namun begitu, Farah menggarisbawahi bahwa sumber pendanaannya sebenarnya sudah ada. Salah satunya lewat skema pendanaan internasional, yang nilainya mencapai sekitar Rp20 miliar. Dana ini merupakan campuran antara pembiayaan konsesional dan komersial.
Artikel Terkait
Menko Infrastruktur AHY Perintahkan PU Kerja Pagi-Siang-Malam Siapkan Jalan untuk Mudik 2026
Gus Yaqut Absen Sidang Praperadilan, Kuasa Hukum Bantah Prosedur Penetapan Tersangka
Presiden Prabowo Utamakan Keselamatan Jemaah Haji, Skenario Penundaan Disiapkan
Harga Daging Sapi Tembus Rp150 Ribu, Melampaui HET Jelang Lebaran