Di Balik Langkah Para Perantau: Menguak Dampak Nyata Migrasi Global

- Kamis, 18 Desember 2025 | 06:45 WIB
Di Balik Langkah Para Perantau: Menguak Dampak Nyata Migrasi Global

Tanggal 18 Desember selalu jadi momen khusus. Di seluruh dunia, hari itu diperingati sebagai Hari Migran Internasional. Bukan sekadar tanggal di kalender, tapi lebih sebagai pengingat akan sumbangsih luar biasa dari jutaan orang yang memilih merantau. Kontribusi mereka, seringkali tanpa sorotan, ternyata sangat berarti.

Kalau kita lihat data PBB, peran migran itu nyata banget. Mereka mengisi celah di pasar tenaga kerja, bawa ide-ide segar, dan bahkan jadi penggerak roda ekonomi. Di negara tujuan, mereka membantu mengatasi masalah demografi. Sementara itu, dari kampung halaman, dukungan yang mereka kirimkan lewat remitansi justru jadi penopang hidup dan stimulan pembangunan. Intinya, gerak mereka memberi napas di dua tempat sekaligus.

Lalu, apa sih yang bikin orang memutuskan untuk pergi? Alasan klasiknya sih soal kerjaan. Daya tarik gaji yang lebih baik di negara maju memang kuat banget. Apalagi, kesenjangan pendapatan antarnegara makin lebar. Fenomena ini nggak cuma terjadi antara negara kaya dan miskin, tapi juga terasa di antara negara berkembang sendiri yang pertumbuhannya cepat dan yang tertinggal.

Namun begitu, ada satu hal yang menarik. Ternyata, kemiskinan ekstrem di daerah asal bukan jaminan orang akan berbondong-bondong hengkang. Kenyataannya, mereka yang paling miskin justru sering nggak punya modal buat menanggung biaya dan risiko merantau ke luar negeri.

Kebanyakan migran internasional justru berasal dari kalangan menengah. Tapi ceritanya berubah setelah mereka sukses menetap. Mereka biasanya mulai menolong saudara atau teman untuk menyusul. Proses berantai ini lama-lama menurunkan biaya dan risiko migrasi. Akhirnya, orang dengan ekonomi lebih lemah meski bukan yang paling miskin pun punya peluang buat ikut. Nah, migrasi tenaga kerja dengan skill rendah inilah yang punya dampak paling besar untuk meringankan beban kemiskinan di daerah asal.

Yang semakin jelas sekarang, migrasi internasional umumnya membawa dampak positif. Baik buat negara yang ditinggalkan maupun negara tujuan. Bahkan, beberapa analis bilang potensi manfaatnya bisa lebih besar ketimbang keuntungan dari perdagangan bebas, khususnya bagi negara-negara berkembang.

Dari Mana Asal Muasal Peringatan Ini?

Cerita resminya berawal dari 4 Desember 2000. Saat itu, Majelis Umum PBB, melihat jumlah migran yang terus membengkak, akhirnya menetapkan 18 Desember sebagai Hari Migran Internasional. Tanggal itu dipilih karena bertepatan dengan pengesahan Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak-Hak Semua Pekerja Migran dan Keluarganya, sepuluh tahun sebelumnya, tepatnya di tahun 1990.

Isu ini terus didiskusikan. Pada September 2006, sebanyak 132 negara berkumpul dalam Dialog Tingkat Tinggi tentang Migrasi Internasional dan Pembangunan. Dari pertemuan itu, muncul beberapa poin kesepakatan kunci.

Pertama, migrasi internasional diakui sebagai fenomena yang terus berkembang dan punya potensi besar mendukung pembangunan tentu saja jika dikelola dengan kebijakan yang tepat.

Kedua, semua sepakat bahwa menghormati hak dan kebebasan dasar para migran adalah hal yang non-negotiable. Ini prasyarat mutlak agar manfaat migrasi bisa dirasakan semua pihak.

Dan ketiga, kerja sama internasional entah itu bilateral, regional, atau global harus diperkuat. Migrasi ini soal kita semua, jadi urusannya juga harus bareng-bareng.

Jadi, di setiap peringatannya, hari ini bukan cuma seremoni. Tapi lebih pada refleksi: bagaimana kita melihat dan menghargai langkah besar mereka yang meninggalkan rumah, untuk membangun kehidupan yang lebih baik, sekaligus menghidupi yang tersisa di kampung halaman.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar