Menyambut Idul Fitri, tradisi saling mengirim hampers atau bingkisan di Indonesia seolah sudah tak terpisahkan. Keluarga, kerabat, sampai teman kantor saling kirim paket berisi aneka barang. Ini jadi bagian dari suasana Lebaran yang hangat, penuh kebersamaan dan tentu saja, berbagi.
Tapi tahukah kamu? Kebiasaan yang terlihat modern ini punya akar sejarah yang ternyata sangat panjang. Asal-usulnya bahkan merambah ke belahan dunia lain, sebelum akhirnya mendarat dan melekat di sini, terutama saat hari raya tiba.
Dari Keranjang Makanan Abad ke-11
Kalau dirunut ke belakang, tradisi hampers sudah ada sejak abad ke-11 lho. Konon, William Sang Penakluk lah yang pertama kali mempopulerkannya usai Pertempuran Hastings. Saat itu, keranjang anyaman jadi pilihan utama untuk membawa bekal makanan dan minuman.
Alasannya sederhana. Keranjang anyaman lebih ringan ketimbang kotak kayu, tapi tetap kuat dan bisa menjaga isinya tetap aman dalam perjalanan jauh, baik di darat maupun laut.
Nah, tradisi ini kemudian berkembang pesat di Eropa sekitar abad ke-19. Di tengah gegap gempita revolusi industri, keluarga-keluarga kelas menengah atas di era Victoria menjadikan hampers sebagai hadiah istimewa untuk perayaan seperti Natal. Dari sanalah, kebiasaan memberi bingkisan ini perlahan menyebar ke berbagai penjuru dan momen.
Lalu, Kapan Masuk ke Indonesia?
Di tanah air, sebenarnya kebiasaan tukar-menukar bingkisan sudah ada sejak zaman kolonial. Menurut Moordiati S.S., M.Hum, dosen sejarah Universitas Airlangga, awalnya cuma kalangan tertentu saja yang melakukan ini, terutama di masa Belanda.
“Hal tersebut terjadi karena adanya kesenjangan sosial dan ekonomi yang cukup besar pada masa itu,” jelasnya.
Masa pendudukan Jepang pun tak mendukung tradisi ini berkembang. Masyarakat lebih fokus bertahan hidup di tengah kondisi yang serba sulit. Barulah sekitar tahun 1980-an, kebiasaan ini mulai dikenal luas dengan sebutan ‘parsel Lebaran’. Isinya waktu itu masih sederhana, didominasi kue kering khas Lebaran. Istilah ‘hampers’ sendiri baru benar-benar populer digunakan sekitar tahun 2000-an.
Maknanya Pun Berubah
Sekarang, isi hampers jauh lebih beragam. Tak cuma makanan, tapi juga pakaian, peralatan rumah tangga, bahkan barang mewah. Fenomena ini dimanfaatkan pelaku usaha dengan menjual hampers khusus jelang hari raya.
Menurut Moordiati, makna di balik pemberiannya juga mengalami pergeseran. Awalnya, ini murni bentuk terima kasih dan balas budi. Namun seiring waktu, hampers juga jadi simbol apresiasi atau penghargaan dalam berbagai hubungan sosial, termasuk saat Idul Fitri.
Jadi, perjalanan tradisi hampers memang panjang sekali. Bermula dari keranjang anyaman berisi bekal perjalanan di masa lampau, lalu menjelma menjadi budaya berbagi kebahagiaan yang kita kenal sekarang. Unik, bukan?
Artikel Terkait
Empat Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Pangkat Anumerta Diberikan
Pemerintah Peringatkan KBIHU: Jangan Pungut Biaya Tambahan ke Jemaah Haji
Trump Perpanjang Gencatan Senjata dengan Iran, Tekanan Ekonomi Jadi Senjata Utama
Daerah Sumut dan Sumbar Kumpulkan Rp 287 Miliar untuk Pemulihan Aceh Pasca-Bencana