Tradisi Hampers Lebaran Berakar dari Keranjang Makanan Abad ke-11

- Rabu, 11 Maret 2026 | 11:30 WIB
Tradisi Hampers Lebaran Berakar dari Keranjang Makanan Abad ke-11

Menyambut Idul Fitri, tradisi saling mengirim hampers atau bingkisan di Indonesia seolah sudah tak terpisahkan. Keluarga, kerabat, sampai teman kantor saling kirim paket berisi aneka barang. Ini jadi bagian dari suasana Lebaran yang hangat, penuh kebersamaan dan tentu saja, berbagi.

Tapi tahukah kamu? Kebiasaan yang terlihat modern ini punya akar sejarah yang ternyata sangat panjang. Asal-usulnya bahkan merambah ke belahan dunia lain, sebelum akhirnya mendarat dan melekat di sini, terutama saat hari raya tiba.

Dari Keranjang Makanan Abad ke-11

Kalau dirunut ke belakang, tradisi hampers sudah ada sejak abad ke-11 lho. Konon, William Sang Penakluk lah yang pertama kali mempopulerkannya usai Pertempuran Hastings. Saat itu, keranjang anyaman jadi pilihan utama untuk membawa bekal makanan dan minuman.

Alasannya sederhana. Keranjang anyaman lebih ringan ketimbang kotak kayu, tapi tetap kuat dan bisa menjaga isinya tetap aman dalam perjalanan jauh, baik di darat maupun laut.

Nah, tradisi ini kemudian berkembang pesat di Eropa sekitar abad ke-19. Di tengah gegap gempita revolusi industri, keluarga-keluarga kelas menengah atas di era Victoria menjadikan hampers sebagai hadiah istimewa untuk perayaan seperti Natal. Dari sanalah, kebiasaan memberi bingkisan ini perlahan menyebar ke berbagai penjuru dan momen.

Lalu, Kapan Masuk ke Indonesia?

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar