Dompet Semakin Tipis, Kesejahteraan Rakyat Tergerus Diam-Diam

- Kamis, 15 Januari 2026 | 06:50 WIB
Dompet Semakin Tipis, Kesejahteraan Rakyat Tergerus Diam-Diam

Potret Kesejahteraan Rakyat Kian Terkikis

Oleh: Nano Hendi Hartono
Wartawan Senior

Embun pagi masih menempel di daun ketika Siti, 42 tahun, membuka dompet kainnya di pinggiran Bekasi. Ia menghitung. Lembaran lima ribuan itu disusunnya dengan hati-hati, bukan untuk ditabung, tapi agar cukup bertahan sampai Sabtu nanti. Sudah dua tahun lebih celengan plastik di lemari itu kosong melompong. “Sekarang bukan soal nabung, Pak,” ucapnya pelan. “Bertahan hidup saja sudah syukur.”

Cerita Siti ini, sayangnya, bukan cerita sendirian. Dia cuma satu dari jutaan. Perlahan-lahan, tanpa gemuruh krisis atau pengumuman resmi, kesejahteraan mereka tergerus. Rasanya nyata di keseharian.

Coba lihat kemampuan menabung. Itu indikator yang paling jujur. Dan di sini, alarm harusnya berdering keras. Banyak keluarga kini hidup dari gajian ke gajian, bahkan dari utang ke utang. Biaya hidup mulai dari beras, ongkos anak sekolah, bensin naik terus. Tapi pendapatan? Jangan tanya.

Memang, mal masih ramai. Jalan tol tetap macet. Tapi jangan terkecoh. Pola konsumsi berubah bukan karena daya beli kuat, tapi karena orang terpaksa. Tabungan dikuras, barang berharga dijual, pinjaman online dengan bunga gila-gilaan jadi andalan.

Kelas menengah, yang biasa jadi penyangga ekonomi, pelan-pelan merosot. Mereka masih kerja, tapi rapuh banget. Cuma butuh satu musibah: sakit, kena PHK, atau biaya sekolah naik, langsung ambruk semuanya.

Di sisi lain, coba bandingkan dengan laporan harta pejabat. Angkanya justru naik. Aset makin banyak, properti bertambah, simpanan di bank menggelembung. Kontrasnya menyakitkan.

Ironinya bukan cuma pada angka. Tapi pada jurang empati yang makin menganga. Rakyat dipaksa mengencangkan ikat pinggang, sementara sebagian elite terlihat tenang-tenang saja bahkan di tengah situasi yang sebenarnya tidak ringan.

Pertanyaan warga pun sederhana: kenapa pengorbanan selalu diminta dari bawah? Sementara di atas, seolah tak tersentuh.

Narasi resmi sering bilang inflasi terkendali, pertumbuhan positif. Secara statistik mungkin iya. Tapi ekonomi bukan cuma grafik di layar komputer. Ia hidup. Di dapur, di warung kopi, di pasar yang becek.


Halaman:

Komentar