Sebenarnya, peringatan sudah lama disuarakan. Pemerintah Gaza sebelumnya telah mengingatkan soal dampak sistem tekanan rendah dan suhu beku ini. Mereka memprediksi risiko kematian akan tinggi bagi kelompok rentan: anak-anak, orang sakit, dan para lansia. Peringatan itu sekaligus menyiratkan kekhawatiran bahwa korban akan terus berjatuhan jika tidak ada intervensi segera dari dunia internasional.
Dalam pernyataannya, media pemerintah Gaza bersikeras menyebut Israel bertanggung jawab penuh. Situasi ini, kata mereka, adalah bentuk "pembunuhan perlahan" terhadap penduduk Gaza. Sebuah kelanjutan dari kebijakan sistematis yang menjadikan cuaca ekstrem sebagai senjata tambahan, di samping kelaparan, pengungsian paksa, dan pengepungan ketat.
Seruan pun dilayangkan. Kepada komunitas internasional, PBB, serta berbagai organisasi kemanusiaan dan HAM, mereka mendesak tindakan segera. Intinya: sediakan perlindungan yang aman, buka keran bantuan tanpa halangan. Agar nyawa-nyawa yang masih bertahan bisa diselamatkan. Sebelum semuanya benar-benar terlambat.
Tragedi ini tentu memantik kecaman. Banyak kalangan internasional menilai, membiarkan warga sipil terutama anak-anak menderita di bawah pengepungan dan cuaca ekstrem seperti ini adalah pelanggaran berat hukum humaniter.
Di lapangan, bagi ribuan keluarga pengungsi, kenyataan yang mereka hadapi lebih sederhana namun menghancurkan. Setiap malam di musim dingin ini adalah pertaruhan hidup dan mati. Di tengah kehancuran, dingin yang tak tertahankan, dan perasaan bahwa dunia seakan diam saja menyaksikan kejahatan kemanusiaan ini terus berlanjut.
Artikel Terkait
Prabowo Tegaskan Pentingnya Sosial Humaniora dalam Pertemuan dengan 1.200 Akademisi
Dokter Tifa Klaim Fufufafa adalah Gibran, Ungkap Analisis Otak dalam Buku Kontroversial
Oegroseno Buka Suara: Ijazah Jokowi Diperiksa Seperti Artefak Kuno
Fahri Hamzah Bicara Shadow Power, Ini Tantangan Kedaulatan Finansial di Balik Layar