Badai musim dingin yang ganas masih terus mengamuk. Setelah meluluhlantakkan kawasan barat daya dan tengah Amerika Serikat, kini giliran wilayah timur laut yang padat penduduknya yang merasakan dampaknya. Ribuan penerbangan batal, listrik padam, dan transportasi kacau balau. Semua ini akibat hujan es dan salju yang dipicu massa udara dingin yang menggantung membandel di atas negeri itu.
Di sisi lain, situasinya belum akan membaik dalam waktu dekat. Menurut Badan Layanan Cuaca Nasional (NWS), dampak salju dan hujan beku ini diprediksi bakal bertahan hingga minggu depan.
"Permukaan jalan akan membeku berulang kali, tetap licin, dan berbahaya baik untuk kendaraan maupun pejalan kaki," kata NWS, seperti dilansir AFP, Minggu (25/1/2026).
Laporan salju sudah berdatangan dari berbagai penjuru. Kansas, Oklahoma, sampai Missouri dilaporkan kebanjiran salju, dengan ketebalan di beberapa titik mencapai delapan inci atau sekitar 20 sentimeter pada Sabtu malam. Ancaman hujan salju lebat dan penumpukan es yang disebut-sebut "bencana" itu memicu aksi panik. Rak-rak supermarket di berbagai lokasi ludes dijarah warga yang ingin berjaga-jaga.
240 Juta Orang dalam Ancaman
Cakupan badai ini sungguh luas. Menteri Transportasi Sean Duffy bahkan memperingatkan bahwa sekitar 240 juta warga AS berpotensi terdampak. Tidak main-main, setidaknya 20 negara bagian plus ibu kota Washington DC telah menetapkan status keadaan darurat.
"Anggap badai ini serius, kawan-kawan," tulis NWS di platform X. Mereka memprediksi akan ada "hamparan salju yang sangat panjang" membentang dari Colorado hingga Maine.
Kekacauan di sektor transportasi udara nyata. Data dari FlightAware mencatat, sekitar 14.000 penerbangan domestik maupun internasional dibatalkan selama akhir pekan. Ribuan lainnya tertunda. Cuaca ekstrem juga melanda daerah yang biasanya lebih hangat. Lihat saja Dallas, Texas. Kota ini diguyur hujan es dan suhunya anjlok hingga -6 derajat Celcius, sesuatu yang jarang terjadi di bulan Januari.
Listrik Padam, Kekhawatiran Muncul
Masalah lain yang mengintai adalah pemadaman listrik. Meski sejumlah pejabat Texas berjanji jaringan listrik mereka sudah lebih tangguh dibanding lima tahun silam, kenyataannya jaringan itu kembali kolaps. Akibatnya, ratusan ribu rumah gelap.
Berdasarkan data poweroutage.us, lebih dari 180.000 pelanggan mengalami blackout hingga Minggu pagi. Sekitar 45.000 di antaranya berada di Texas, dan sekitar 67.000 lagi di negara bagian tetangganya, Louisiana.
Menyikapi situasi ini, Kepala Departemen Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem mendesak warganya untuk berhati-hati.
"Bersikap bijak, tetap di rumah jika memungkinkan," ujarnya dari markas FEMA di Washington.
"Jaga anggota keluarga Anda, periksa tetangga Anda, dan terus bekerja sama dengan pejabat setempat."
Sementara itu, dari Gedung Putih, Presiden Donald Trump menyatakan terus memantau perkembangan badai di semua negara bagian yang terdampak.
"Kami akan terus memantau, dan tetap berhubungan dengan semua negara bagian yang berada di jalur badai ini. Tetap aman, dan tetap hangat!," tulisnya di Truth Social.
Badai ini jelas belum menunjukkan tanda-tanda akan reda. Warga di seantero AS hanya bisa bersiap dan berharap yang terbaik, sementara langit masih kelabu dan angin dingin terus menderu.
Artikel Terkait
Konflik Timur Tengah Ancam Harga Kondom Global, Produsen Terbesar Dunia Peringatkan Potensi Kenaikan 30 Persen
Menteri Perhubungan Evaluasi Total Sistem Perkeretaapian Usai Tabrakan KA Argo Bromo dan KRL di Bekasi
Kecelakaan Maut di Bekasi: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL, 14 Orang Tewas
Polresta Yogyakarta Tetapkan Ketua Yayasan sebagai Otak Kekerasan Sistematis di Daycare Little Aresha