Di Desa Tuksongo, Kabupaten Magelang, sebuah pohon randu alas raksasa memicu perdebatan hangat. Di satu sisi, ada keinginan untuk mempertahankannya. Di sisi lain, ancaman untuk menebangnya juga mengemuka. Alasannya? Pohon itu dianggap sudah mati. Ranting-rantingnya sering berjatuhan, mengancam keselamatan.
Menurut Hatma Suryatmojo, dosen dan peneliti dari Fakultas Kehutanan UGM, randu alam sejatinya adalah pohon perindang yang kokoh. Tajuknya yang tebal berfungsi menaungi.
Karena kekuatannya itu, jenis pohon ini bisa berumur panjang, bahkan mencapai ratusan tahun. Umurnya bisa diperkirakan dari pertumbuhan diameternya yang sekitar 2 cm per tahun. "Jadi dilihat saja itu nanti umurnya berapa bisa dihitung dari, dari situ," tambah Hatma.
Benarkah Pohon Itu Sudah Mati?
Kekhawatiran warga tampaknya punya dasar. Mereka melihat pohon itu kering, kulitnya mengelupas, dan rantingnya mudah patah. Menurut Hatma, analisa visual warga itu tepat. Itu adalah ciri-ciri pohon yang sudah mati.
Nah, di sinilah dilemanya. Posisi pohon yang berada di tepi jalan dan dekat pemukiman membuatnya berisiko. Batang dan cabang yang rapuh bisa saja runtuh kapan saja. Kalau dibiarkan, jelas membahayakan.
Artikel Terkait
Habib Rizieq dan Massa Islam Desak Netflix Hapus Konten Pandji yang Disangkutkan dengan Salat
Menlu Sugiono: Diplomasi Indonesia Harus Berbasis Realisme di Tengah Dunia yang Abu-Abu
Malam itu, Jakarta Mulai Menghapus Jejak Monorel yang Mangkrak
KPK Geledah Ditjen Pajak, Selidiki Aliran Suap ke Kantor Pusat