Di Desa Tuksongo, Kabupaten Magelang, sebuah pohon randu alas raksasa memicu perdebatan hangat. Di satu sisi, ada keinginan untuk mempertahankannya. Di sisi lain, ancaman untuk menebangnya juga mengemuka. Alasannya? Pohon itu dianggap sudah mati. Ranting-rantingnya sering berjatuhan, mengancam keselamatan.
Menurut Hatma Suryatmojo, dosen dan peneliti dari Fakultas Kehutanan UGM, randu alam sejatinya adalah pohon perindang yang kokoh. Tajuknya yang tebal berfungsi menaungi.
"Kalau menyimpan air, jelas. Cuma salah satu ciri dari pohon Randu itu, iya, dia memiliki percabangan yang cukup kuat, sehingga dia, itu kalau masih hidup, itu sangat jarang untuk ranting ataupun cabangnya itu patah. Jadi itu termasuk pohon yang kuat,"
Karena kekuatannya itu, jenis pohon ini bisa berumur panjang, bahkan mencapai ratusan tahun. Umurnya bisa diperkirakan dari pertumbuhan diameternya yang sekitar 2 cm per tahun. "Jadi dilihat saja itu nanti umurnya berapa bisa dihitung dari, dari situ," tambah Hatma.
Benarkah Pohon Itu Sudah Mati?
Kekhawatiran warga tampaknya punya dasar. Mereka melihat pohon itu kering, kulitnya mengelupas, dan rantingnya mudah patah. Menurut Hatma, analisa visual warga itu tepat. Itu adalah ciri-ciri pohon yang sudah mati.
"Ciri pohon mati di antaranya daunnya nggak ada, kemudian ranting, batang mulai mengering, terus kulit mulai mengelupas, itu kan ciri-ciri pohon mati. Jadi secara, secara visual itu bisa dilihat. Sudah benar (pemahaman warga),"
Nah, di sinilah dilemanya. Posisi pohon yang berada di tepi jalan dan dekat pemukiman membuatnya berisiko. Batang dan cabang yang rapuh bisa saja runtuh kapan saja. Kalau dibiarkan, jelas membahayakan.
Lantas, bagaimana kalau ada yang ingin mempertahankannya? Hatma menyarankan langkah yang lebih bijak: pengecekan mendalam oleh ahli. Misalnya, meminta bantuan tim vegetasi UGM untuk memindai kondisi batangnya.
"Ya, itu mungkin bisa minta bantuan ke tim vegetasi UGM untuk melihat kondisi pohonnya itu, apakah di dalamnya kerowong atau tidak. Kalau ternyata di dalamnya kerowong, maka itu potensi untuk dia rubuh itu sangat tinggi. Karena sangat tinggi (pohonnya),"
Jika bagian dalamnya sudah keropos, risikonya untuk tumbang sangat besar. Tapi, katanya, masih ada opsi lain. Cabang dan ranting yang berbahaya bisa dipangkas, sementara batang utamanya dipertahankan sebagai simbol atau tetenger.
"Batangnya itu masih bisa dipertahankan. Sebagai tetenger, lah, ya, sebagai tetenger atau sebagai simbol,"
Namun begitu, batang yang mati lambat laun akan membusuk. Jadi, pemantauan rutin mutlak diperlukan untuk meminimalkan risiko. Pada akhirnya, keselamatan adalah yang utama. "Kalau memang dia ternyata risikonya terlalu tinggi, tidak bisa dipertahankan, ya, harus direlakan buat ditebang," tegas Hatma. Teknologi seperti penyangga batang, yang lazim di negara maju, bisa jadi solusi. Tapi intinya tetap sama: "Saya setuju dipertahankan tapi faktor keselamatan dan risiko harus dipikir benar."
Fenomena Getah Merah: Penjelasan Ilmiah
Lalu, bagaimana dengan getah merah yang menyerupai darah saat pemangkasan? Banyak yang menghubungkannya dengan hal mistis. Hatma dengan lugas memberikan penjelasan ilmiah.
"Iya beberapa jenis itu kan memang getahnya macam-macam. Ya, ada yang putih, kemudian ada yang merah juga. Mungkin itu termasuk randu yang dia getahnya merah. Jadi ya itu alamiahnya saja,"
Jadi, itu murni sifat alami pohon tersebut, bukan pertanda apapun. Persoalannya kini kembali ke pilihan sulit antara nostalgia dan keamanan warga sekitar.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Sidak Gudang Bulog Magelang, Pastikan Stok Beras Aman
INFID Kritik Garis Kemiskinan BPS dan Anggaran MBG yang Dinilai Tidak Berkelanjutan
Mantan Aktivis Kritik Dominasi Broker Politik dalam Praktik Money Politics
Profesor Hedar Soroti Tantangan Hukum Atasi Dampak Negatif Algoritma