Di Balik Diamnya Jiwa Sensitif: Luka yang Tak Terlihat di Era yang Kasar

- Rabu, 14 Januari 2026 | 02:06 WIB
Di Balik Diamnya Jiwa Sensitif: Luka yang Tak Terlihat di Era yang Kasar

Tapi bertahan bukan berarti baik-baik saja. Seringkali, bertahan justru berarti mengorbankan bagian diri yang paling jujur. Banyak jiwa sensitif tumbuh jadi dewasa yang terputus dari emosinya sendiri. Takut merasa terlalu dalam. Takut dianggap lemah. Takut menjadi beban. Mereka belajar mencintai dunia, sambil perlahan-lahan melukai diri sendiri.

Yang bikin miris, zaman sekarang malah mengambil untung dari kepekaan ini. Empati dijual sebagai alat pemasaran, kepedulian diperas jadi konten, kelelahan emosional dijadikan bahan motivasi murahan. Jiwa sensitif diminta memberi tanpa henti, memahami semua pihak, dan tetap tersenyum. Dan ketika akhirnya runtuh, siapa yang disalahkan? Mereka lagi. Karena dianggap tidak cukup tangguh.

Padahal, coba pikirkan sejenak. Justru jiwa sensitif inilah yang selama ini menjaga agar kemanusiaan kita tak mati. Dari merekalah lahir seni yang menyentuh, kritik sosial yang menggelitik, kepedulian pada yang tertindas. Kepekaan adalah alarm moral sebuah masyarakat. Kalau alarm ini dimatikan, yang tersisa cuma dunia yang efisien tapi dingin. Produktif, tapi hampa.

Jadi, pertanyaannya harus dibalik. Bukan lagi bagaimana jiwa sensitif bisa menyesuaikan diri dengan tekanan zaman. Tapi, apakah zaman ini bersedia berubah agar tetap layak dihuni oleh manusia seutuhnya? Dunia yang sehat harusnya memberi ruang bagi berbagai cara merasa dan berpikir. Ketangguhan sejati itu bukan tentang jadi kebal terhadap rasa sakit. Tapi tentang kemampuan untuk hidup tanpa harus menyangkal kemanusiaan diri sendiri.

Sampai hari ini, jiwa sensitif yang terluka itu masih bertahan. Dengan cara-cara kecil: menulis untuk bernapas, mencintai secara diam-diam, memilih berempati meski sering disakiti. Tapi 'bertahan' tak boleh jadi satu-satunya cerita. Sudah waktunya kita berhenti menuntut mereka untuk terus kuat. Saatnya kita menuntut sistem yang lebih adil. Lebih manusiawi. Dan jauh lebih berbelas kasih.

Karena jika jiwa sensitif terus dipaksa bertahan sendirian, yang akhirnya hancur bukan cuma mereka. Tapi juga sisa-sisa nurani dari zaman kita sendiri.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar