Di tengah hiruk-pikuk zaman yang mengagungkan kecepatan, jiwa yang sensitif seringkali jadi pihak yang paling sunyi. Dan paling terluka. Ia tak berteriak. Rapuh pun tak selalu tampak di permukaan. Tapi di balik diamnya, ada tekanan berlapis untuk tetap kuat, untuk relevan, agar tak dianggap 'berlebihan'. Tekanan paling kejam? Menyesuaikan diri dengan dunia yang sama sekali tak dirancang untuk kepekaan.
Ini bukan soal kelemahan biologis atau gangguan yang perlu disembuhkan. Sama sekali bukan. Jiwa sensitif adalah cara seseorang merasakan dunia secara lebih dalam, lebih jujur. Lebih utuh. Ironisnya, justru kedalaman itulah yang membuatnya rentan di era yang serba kasar ini. Dunia sekarang seolah tak punya waktu untuk perasaan yang lambat. Empati dianggap penghambat, refleksi dicap kemalasan, keheningan dianggap ketinggalan zaman. Akibatnya, mereka dipaksa hidup dengan standar yang bukan miliknya sendiri.
Teknologi dan media sosial, misalnya. Bagi banyak orang, itu cuma alat. Tapi bagi jiwa sensitif, ia bisa berubah jadi panggung kompetisi tanpa akhir yang sangat melelahkan. Belum lagi tuntutan ekonomi yang kadang tak manusiawi, ditambah budaya kerja yang memuja burnout bagai lencana kehormatan. Semua ini bukan cuma peristiwa luar biasa. Bagi mereka yang peka, ini adalah pengalaman emosional yang meresap jauh ke dalam. Kritik terasa lebih tajam, kegagalan terasa personal, dan ketidakadilan meninggalkan bekas yang lama sembuhnya.
Dan lucunya atau lebih tepatnya tragis luka batin semacam ini jarang diakui. Masyarakat lebih gampang bersimpati pada patah tulang atau musibah yang kasat mata, ketimbang pada kelelahan jiwa yang sunyi. Jiwa sensitif cuma dapat nasihat klise: "Harus tebal!", "Jangan baperan," atau "Belajarlah kuat." Seolah-olah kepekaan adalah sebuah kesalahan moral. Bahasa-bahasa seperti ini, percayalah, bukan hal yang netral. Ini adalah bentuk kekerasan simbolik yang meremehkan pengalaman batin seseorang.
Di ruang kerja, tekanan itu makin nyata. Mereka yang peduli pada proses, pada relasi antar manusia, sering terjepit. Sistem cuma peduli pada hasil akhir dan angka-angka. Saat mereka mempertanyakan etika, langsung dicap tidak realistis. Ketika menolak ritme kerja yang menggerus kesehatan mental, dianggap tidak kompetitif. Pada titik ini, kepekaan bukan cuma tak dihargai. Ia dihukum.
Tekanan yang terus-menerus itu melahirkan luka yang sulit diberi nama. Bukan depresi klinis yang gampang didiagnosis, tapi lebih pada kelelahan eksistensial. Lelah karena harus terus-menerus menekan diri sendiri agar bisa masuk ke dalam kotak dunia. Mereka belajar menyembunyikan perasaan, meminimalkan kebutuhan, dan menormalisasi penderitaan. Ini soal bertahan, bukan karena kuat, tapi karena tak ada pilihan lain.
Artikel Terkait
Jeruk, Pomelo, hingga Semangka: Buah-Buah yang Dipercaya Bawa Hoki di Imlek 2026
Pendidikan Berkualitas: Kunci Pemuda Menuju Indonesia Emas 2045
Antrean Hilang, Kesenjangan Muncul: Dilema Digitalisasi Layanan Publik
Prabowo Resmikan SMA Taruna Nusantara Malang, Siapkan Ekspansi Sekolah Unggulan