BNBR Dapat Lampu Hijau Rights Issue untuk Biayai Akuisisi Tol CCT

- Sabtu, 28 Februari 2026 | 12:50 WIB
BNBR Dapat Lampu Hijau Rights Issue untuk Biayai Akuisisi Tol CCT

Rapat pemegang saham luar biasa BNBR akhirnya selesai juga. Hasilnya? Hak untuk melakukan rights issue resmi diberikan. Ini langkah besar yang sudah ditunggu perusahaan.

Rapat itu sendiri digelar Jumat lalu. Dalam pertemuan tersebut, direksi mendapat persetujuan untuk melaksanakan Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu, atau yang biasa kita sebut rights issue.

Anindya Bakrie, Dirut sekaligus CEO BNBR, menjelaskan alasan di balik keputusan ini. Menurutnya, langkah ini penting untuk mengoptimalkan struktur pendanaan perusahaan. Tujuannya jelas: mendanai pengambilalihan PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT).

"Perseroan menilai perlu untuk melaksanakan PMHMETD dalam rangka optimalisasi struktur pendanaan terkait pengambilalihan PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT),"

Lewat skema ini, manajemen berencana melepas saham baru Seri E. Jumlahnya tidak main-main, bisa mencapai 90 miliar saham.

Lalu, kemana uangnya akan dialirkan? Anindya menyebut, dana segar yang terkumpul akan dipakai untuk melunasi utang. Baik utang induk perusahaan maupun anak usahanya. Selain itu, sebagian akan diputar sebagai modal kerja dan bahan bakar ekspansi bisnis, termasuk untuk pengembangan CCT.

Dia sendiri terlihat optimis. Manuver korporasi ini, klaimnya, bakal memberi efek ganda. Performa finansial perusahaan diharapkan terdongkrak, sementara operasional dan struktur modal menjadi lebih kokoh.

Dari sisi angka, proyeksinya juga menarik. Rasio total pinjaman terhadap aset diprediksi turun drastis, dari 84,28% menjadi sekitar 67,9%. Ini sinyal bagus. Artinya, porsi aset yang dibiayai oleh ekuitas pemegang saham akan membesar. Keuntungan dari kinerja aset pun lebih banyak yang bisa dinikmati pemilik saham.

Rasio utang terhadap ekuitas juga diproyeksi membaik. Dari level yang cukup tinggi, 536,02%, diperkirakan akan terjun bebas ke angka 211,57% setelah rights issue rampung.

"Rasio ini menjadi lebih baik karena menyeimbangkan struktur permodalan perseroan antara ekuitas dan kewajiban,"

Namun begitu, ada konsekuensi yang harus diwaspadai investor lama. Mereka yang memilih tidak ikut membeli saham baru berisiko mengalami dilusi. Kepemilikan sahamnya di perseroan bisa menyusut, bahkan hingga maksimal 33,33%, setelah hak tersebut dieksekusi di pasar.

Latar belakang dari seluruh aksi korporasi ini adalah akuisisi CCT. Saat ini, lewat anak usahanya PT Bakrie Toll Indonesia, BNBR sudah memegang 10% saham CCT. Rencananya, mereka akan mengambil alih sisa 90% saham dari PT Sarana Multi Infrastruktur dan PT Waskita Toll Road. Nilai transaksinya sekitar Rp 3,56 triliun.

Performa keuangan BNBR sepanjang 2025 sendiri cukup solid. Pendapatan bersihnya Rp 3,74 triliun. Memang ada koreksi tipis dibanding tahun sebelumnya, tapi yang mencolok adalah laba bersihnya yang melonjak hampir 50% menjadi Rp 502,74 miliar. Angka ini naik signifikan dari periode 2024 yang sebesar Rp 336,04 miliar.

Jadi, rights issue ini bukan sekadar manuver biasa. Ini langkah strategis untuk membenahi neraca sekaligus membiayai ekspansi besar-besaran. Tinggal tunggu eksekusinya di pasar.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar