Perayaan kemenangan Paris Saint-Germain (PSG) di Liga Champions berubah menjadi mimpi buruk setelah hampir 900 orang ditangkap oleh otoritas Prancis dalam gelombang kerusuhan yang melanda sejumlah kota. Bentrokan sengit antara para pemuda dan aparat kepolisian mewarnai pesta suporter yang seharusnya menjadi momen kegembiraan, justru berujung pada aksi anarkis yang meluas.
Ini merupakan tahun kedua berturut-turut bagi PSG, klub raksasa yang bermarkas di ibu kota Prancis, meraih trofi tertinggi sepak bola Eropa tersebut. Pertandingan final sendiri digelar di Budapest, Hungaria, pada Sabtu (30/5) malam waktu setempat. Namun, euforia yang menyambut kedatangan piala di tanah air justru dirusak oleh aksi kekerasan yang tidak hanya terjadi di Paris, tetapi juga menyebar ke beberapa kota lainnya.
Dalam kerusuhan yang pecah pada akhir pekan lalu itu, massa tidak hanya terlibat bentrok fisik dengan petugas, tetapi juga melakukan aksi perusakan. Mobil-mobil pribadi dibakar dan sejumlah toko menjadi sasaran penjarahan, menciptakan suasana kacau di pusat-pusat keramaian.
Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, mengungkapkan angka penangkapan yang sangat tinggi. “Kami telah melakukan lebih dari 890 penangkapan. Secara total, itu mencapai 45 persen lebih banyak daripada tahun lalu,” ujarnya kepada televisi France Inter. Nunez menambahkan bahwa hampir 180 personel penegak hukum mengalami luka-luka akibat terkena lemparan benda keras dan serangan fisik selama upaya pengendalian massa dilakukan.
Artikel Terkait
Polisi Bekuk Pasutri Otak Penipuan Wedding Organizer di Jakarta Timur Usai Buron
Jaehyun BOYNEXTDOOR Alami Cedera Pergelangan Kaki Jelang Rilis Album Perdana, Agensi Batasi Aktivitas Panggung
ART Tewas Dianiaya Majikan Gegara Charger Jam Tangan Hilang di Bogor
Trump: Iran Sangat Ingin Capai Kesepakatan, Negosiasi Terganggu Kritik Politisi Oportunis