Misbakhun Ajak Anak Muda Tingkatkan Literasi Digital di Ramadan

- Sabtu, 28 Februari 2026 | 11:10 WIB
Misbakhun Ajak Anak Muda Tingkatkan Literasi Digital di Ramadan

Di tengah hiruk-pikuk arus informasi digital, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun punya pesan khusus buat anak muda. Menurut politikus Golkar itu, literasi yang mumpuni jadi kunci utama. Tanpa itu, akan sulit bagi generasi sekarang untuk menyaring banjir data yang datang setiap detik.

Pesan ini ia sampaikan dalam momen Ramadan 2026. Bagi Misbakhun, bulan suci ini bukan cuma tentang menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, Ramadan adalah kesempatan emas untuk instrospeksi, mengenal diri lebih dalam lagi.

"Kita dapat bulan Ramadan cuma 29 atau 30 hari. Ini momentum terbaik untuk berkontemplasi, menurunkan tensi hidup yang serba cepat," ujarnya dalam program Inspirasi Bulan Suci, Kamis (26/2/2026).
"Dari situ, kita bisa menyerap energi spiritual, lalu merefleksikannya menjadi kearifan sosial," sambung Misbakhun.

Nah, kearifan sosial itulah yang ia anggap sangat krusial sekarang. Kenapa? Karena distorsi informasi di era digital ini luar biasa kuat. Setiap orang dengan gawai di tangannya bisa mengakses segalanya, terutama dari media sosial.

"Generasi sekarang hidup dalam distorsi informasi yang sangat kuat. Arusnya luar biasa," tegasnya.
"Mereka ada di dalam platform seperti TikTok, Instagram, Facebook, Twitter-X, atau Threads. Semuanya menyajikan informasi dalam jumlah yang masif," lanjut Misbakhun.

Dia lantas membandingkan dengan zamannya dulu. Dulu, informasi punya filter yang jelas. Koran atau media online punya pemimpin redaksi dan redaktur yang bertanggung jawab penuh atas konten dan narasumbernya. Sekarang? Semua jadi berantakan.

"Sekarang, siapa pun bisa bikin konten berita. Kebenarannya seringkali tidak bisa diuji. Bohong pun akan mereka sajikan," ungkapnya prihatin.

Inilah tantangan besar yang dihadapi anak muda masa kini. Menurut Misbakhun, Ramadan bisa jadi awal yang baik untuk mulai mengatasi hal ini. Caranya? Dengan sedikit mengurangi kebiasaan 'scroll' layar dan lebih banyak merenung.

"Di bulan puasa ini, coba kita kurangi waktu menatap layar. Kurangi jam tayang untuk scroll-scroll. Alihkan untuk lebih banyak membicarakan dan memahami diri kita sendiri," ajaknya.

Dia mengajak semua, terutama generasi muda, untuk mengisi Ramadan dengan hal-hal positif. Isinya tak melulu soal spiritual pribadi, tapi juga bagaimana dampaknya ke sosial.

"Dengan instrospeksi, kita akan bicara hal-hal spiritual. Untuk apa kita hidup? Lalu, pentingnya berbuat baik, memberi manfaat bagi orang lain. Dari situlah kearifan sosial dibangun," imbuh Misbakhun.

Relasi yang baik dengan teman, saudara, dan orang tua juga perlu diperkuat. Tak ketinggalan, kontribusi pada komunitas, baik yang kecil maupun yang lebih besar. Intinya, Ramadan ini diharapkan bisa jadi titik balik; dari individu yang pasif menerima informasi menjadi pribadi yang aktif menyaring dan memberi manfaat.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar