Din Syamsuddin Peringatkan Retak Sosial dan Tantangan Ekonomi di Hadapan Pemerintahan Baru

- Selasa, 13 Januari 2026 | 20:50 WIB
Din Syamsuddin Peringatkan Retak Sosial dan Tantangan Ekonomi di Hadapan Pemerintahan Baru

Pertumbuhan itu masih dihantui minimnya lapangan kerja formal, produktivitas yang lamban, dan ketergantungan berlebihan pada konsumsi dalam negeri. “Ekonomi tetap tumbuh, tetapi kualitasnya masih terus diuji. Ini menjadi pekerjaan rumah besar pada 2026,” katanya dengan nada serius.

CDCC pun mengingatkan, persoalan ekonomi yang pelik ini jangan sampai merembet dan memicu instabilitas politik. Jangan sampai dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tak bertanggung jawab. Dalam konteks inilah, organisasi itu menaruh harapan besar pada kepemimpinan baru.

“CDCC meyakini Presiden Prabowo Subianto sebagai prajurit negarawan dapat mengambil langkah-langkah positif, konstruktif, dan strategis,” ujar Din.

Harapan itu tidak hanya untuk persoalan dalam negeri. Perhatian CDCC juga tertuju pada dinamika global yang suram. Konflik bersenjata yang tak kunjung usai, krisis kemanusiaan di berbagai penjuru, serta politik kebencian dan diskriminasi yang justru menguat termasuk Islamofobia.

“Kekerasan bukan hanya menghancurkan wilayah dan merenggut nyawa, tetapi juga mematikan nurani global,” tegasnya.

Jalan keluarnya? Dialog. Dialog yang jujur, kolaborasi global yang adil, dan keberpihakan teguh pada nilai-nilai kemanusiaan universal. Itulah satu-satunya jalan ke depan yang mereka lihat.

Ke depan, agenda CDCC sudah menanti. Setelah Forum Perdamaian Dunia ke-9, mereka akan menggelar peringatan World Interfaith Harmony Week dan International Day of Human Fraternity pada Februari 2026, bekerja sama dengan Inter Religious Council Indonesia dan DPD RI.

Juga ada Dialog Pemuda Lintas Agama ASEAN untuk membangun saling pengertian anak muda regional. Serta yang tak kalah penting, Majelis Cendekiawan Madani Malaysia–Indonesia (MCM Malindo) II di Jakarta pada Agustus mendatang.

“MCM Malindo bertujuan memperkuat landasan intelektual negara madani serta memajukan kehidupan umat Islam serantau,” kata Din Syamsuddin.

Pada akhirnya, semua kembali pada komunikasi. Dialog harus ditingkatkan, bukan cuma antar lembaga negara, tapi juga antara pemerintah dan masyarakat. “Kami meyakini kekuatan dialog. Tidak ada masalah yang tidak dapat diatasi,” pungkasnya dengan keyakinan.

Dukungan untuk pemerintahan baru disampaikan, tapi dengan catatan: langkah-langkah strategis itu harus tetap mengacu pada cita-cita nasional. Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Itulah kompas yang tak boleh hilang saat merajut kembali kemajemukan dan mengemudikan perahu besar ini di tengah gelombang tantangan 2026.


Halaman:

Komentar